Begaya di ICE – Not Lucky Bastard

“Kita naik apa pak dari Jerman ke Belanda?”

Kereta Intercity Express, satu tiket ICE antar negara harganya “maaf tidak untuk di expose!”, hehe. ICE adalah pengalaman naik kereta untuk ketiga kalinya selama di Jerman, sudah pernah ngerasain kereta ekonominya yang berasa kayak naik eksekutif, atau lebih tepatnya, ekonomi di sini lebih cepat dari eksekutif manapun di Indonesia (catatan: kereta di Jawa, soalnya saya belum pernah ngerasain naik kereta di luar Jawa).

“Dewi Fortuna” emang lagi ga menyertai rombongan kita kali ya, atau kita-kitanya yang lupa bilang Bismillah pas berangkat. Orang Indonesia terkenal banget dengan adagium “There is no more way to make Indonesian walk faster or come on time!”, habis siapa suruh berfilsafah “alon-alon asal kelakon”. Habis cekrak-cekrik di Leipzih Hbf sama Anna Mrozek dan Mafi, datanglah itu kereta ICE, panjangg banget, kepalanya lonjong silinder, mirip-mirip shinkansen, susah ngegambarinnya, liat sendiri fotonya aja ya. Dosen saya berteriak sembari menarik kopernya kalau gerbong kita ada di bagian agak ujung, jauh dari kepala, baru kita cari gerbong yang mana, tiba-tiba ada tanda kereta akan segera berangkat, ebuset cepet amat ini kereta berhentinya. Berasa ngejar metromini di pinggir jalan, koperpun berasa jadi karung beras, lempar tangkap, dan pintu tertutup. Huffft..

Muncul pertanyaan di mulut saya waktu tadi lari-lari ngejar gerbong yang berhenti, ngapain sih kok ga naek asal gerbong dulu aja, ntar pas kereta udah jalan, baru jalan dalam kereta sambil cari gerbong plus seat-nya. Temen saya menjawab “Ga bisalah, ga liat kamu, itu ada gerbong ga semuanya nyambung, kepala keretanya ada banyak…” Setelah jawaban itu terlontar, barulah saya ngeh, kepala beberapa gerbong terus kepala lagi, oalah.  Baru leha-leha njereng buku, snack, persiapan tidur karena berpikir ini kereta langsung ke Utrecht, eh, ternyata transit di Frankfurt dulu. Belingsatanlah kita ngambilin barang-barang yang pating slengkrah, hasil dari mengira-ngira akan delapan jam di kereta.

Perut keroncongan saat transit di Frankfurt (pendapat subjektif: Berlin Hbf and Frankfurt Hbf adalah dua stasiun kereta yang kalau kita ada disana berasa ada di stasiun luar angkasa), muter-muter cari restoran yang ada nasinya, hehe, biasa, lidah asia, ketemu dah itu Chinese Food, Spicy Noodle, yang ternyata bukan mi super pedas, tapi mi super asin, yaakkksss.. the taste is not goooddd….

Perjalanan naik ICE kembali berlanjut, setelah terkagum-kagum dengan kecepatan kereta yang sampek bikin oklusi tuba saya kumat, berasa melayang sambil menikmati pemandangan mobil-mobil eropa di salip sama ICE. Ketenangan flying with ICEitu terganggu saat ada ada beberapa pemuda lewat sambil membawa berkrat-krat bir, call us “asian girl” dan mulai pesta mabok mereka, annoying. Namanya juga berasa di pesawat, tertidurlah saya dengan nyenyak selama hampir sepuluh menit saat temen saya tiba-tiba membangunkan dan menanyakan tasnya yang berisi paspor, blackberry, handycam, plus duwit 300 euro. Ublek-ublek tempat tas, kolong kursi, kesimpulannya, tasnya telah dimaling di perbatasan Jerman-Belanda. Di kereta sebagus ini, di Eropa ini ternyata ada maling juga.He.Apes dan maaf, kere lah temen saya itu.Lapor ke petugas kereta, diturunin di stasiun kereta terdekat untuk lapor ke polisi, dan kereta ICE terakhir selanjutnya.

Take seat as you want! Ga tahu kenapa, berasa pengen ngobrol sama temen saya yang wajahnya aduh muelas puol, mesakne, almost lost everything, kecuali dompet yang untungnya ditaruh di celana, bermodal pengen ngobrol-lah saya akhirnya menemukan gerbong luar biasa itu. Baru masuk, saya udah dipelototin temen saya sambil menaruh telunjuk di bibir, kemudian menunjuk tulisan “keep silent please!”, celingak-celinguk, ternyata ini gerbong letaknya persis di belakang masinis, kalau mau ngomong harus bisik-bisik, hape harus di silent, dan cuma ada pemandangan tiga orang Indonesia yang sok-sokan dapet kuat beli tiket di gerbong ini (kayaknya business class), dan dua orang manula yang lagi asyik baca buku tebel. Lagi asyik liat-liat, eh, petugas catut tiket datang, dan wajahnya seakan mempertanyakan “kok bisa duduk disini?”, kemudian setelah mendengarkan tentang “kemalingan” yang dialami temen saya, dan ini adalah privilegeuntuk take seat as you want barulah si petugas catut itu manggut-manggut dan berlalu pergi. Assiiikk, ga jadi diusir.Hehe.

Dari tempat duduk, kita bisa ngeliat masinis yang berbadan lebar sama operating machine-nya dari balik kaca transparan, widdiiihhh,, kereenn, kalau dibandingin tempat masinis di kereta Indonesia. Alhasil, saya jadi ga banyak ngobrol, malah sibuk ngeliatin masinis sama pemandangan di luar yang mulai gelap, keliatan banget yang mana Jerman dan yang mana daerah udah masuk Belanda (dari bentuk bangunan dan kondisi lingkungan). Hehe. Netherland we’re coming.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s