Gambar Bangun Persegi itu Sempurna!

Aih, namanya saja aku lupa.

Itu kelas pertamaku sekaligus terakhirku. Setelah  setahun lebih pension sebagai relawan Sekolah Rakjat yang tiap seminggu sekali harus menempuh perjalanan 30-45 menit menuju Sekolah Al Irsyad Tumpang. Hari itu entah kenapa, rasa kangen untuk kembali hanya sekedar melongok keadaan sekolah, aku kembali ikut. Awalnya hanya duduk menikmati tandusnya lapangan sekolah karena tidak ada tumbuhan kecuali rumput berwarna kuning kehijauan di teras halaman sekolah. Seorang relawan baru tiba-tiba berteriak memanggil namaku dari arah kelas satu.

            “Mba…minta bantuannya mengajar kelas satuya? Ada satu guru lagi yang tidak hadir, jadi saya harus mengajar di kelas sebelah, bahasa Indonesia ya mba..ini bukunya”

Reaksi pertamaku,hanya menatap kepergian si relawan baru dengan tatapan mata kosong, tidak ada persiapan untuk mengajar hari ini. Bahasa Indonesia? Mengajar tentang apa? Sampai mana mereka belajarnya? Aku berdiri sekitar lima menit di depan kelas, mengatur mimic wajah agar tidak kelihatan panik.

Kelas sebelah yang dimaksud adalah kelas tiga. Maklum, waktu itu antara kelas satu, dua, tiga, empat, lima, enam, hanya dibatasi tumpukan bangku yang disusun.

            Seperti biasa, luasnya kelas satu mirip luasnya dua kali kamar kos.

            Ini sudah hamper setengah semester, pastinya sudah lewat tahapan mengeja huruf, toh, anak sekarang tamat Taman Kanak-Kanak kebanyakan sudah bias membaca.

            ……………

            Dan generalisasi saya bahwa “kebanyakan anak lulus TK sudah pasti bias membaca” adalah kesalahan karena sikap sok tahu yang kebacut. Terbukti dengan ekspresi kosong, tatapan bingung mereka pada saat saya mulai mengajak mereka membaca sebuah cerita pendek yang ada di buku pelajaran. Menarik nafas panjang, saya mulai membuat garis seperti yang ada di buku tulis halus di papan tulis kapur.  Ada satu dua orang murid yang sebenarnya sudah mengenal berbagai macam huruf abjad, namun kebanyakan belum bisa, bahkan ada yang tidak bias menulis huruf sama sekali. Selesai saya memenuhi papan tulis dengan huruf capital dan latin, saya mulai mengelilingi kelas satu per satu. Saat mengajar, prinsip saya salah satunya adalah, ingin memberikan perhatian yang sama pada semua, terutama anak-anak yang mengalami kesulitan dalam menangkap pelajaran. Kenapa? Sewaktu SD, saya tergolong murid yang lamban dalam menangkap pelajaran, guru saya bukannya malah memperhatikan saya dan teman-teman yang mengalami kesulitan menangkap pelajaran, melainkan lebih suka memberikan perhatian pada mereka yang pintar, cerdas, dan kelihatan menonjol saja di kelas. Saya tidak ingin itu terjadi pada anak-anak disini. Saya ingin semua anak merasa dia itu istimewa.

            “Tidak adakah yang punya pensil dan penghapus? Kenapa kok semuanya pakai pulpen? Kalau pakai pensilkan lebih gampang dihapus daripada dicoret-coret…” tanyaku pada semua anak di kelas, hanya ada satu anak yang mengangguk, teriak-teriak, hamper loncat dari bangkunya, kegirangan, dia berlari kearahku sambil mengacungkan pensil berwarna hijau tua,

            “Ada kak, ada kak, tapi cuma satu….”

            Aku tersenyum, “Pakai pensil dulu ya, sementara ini yang tidak punya pensil, pakai pulpen dulu gak apa-apa…”  dalam hati aku bersyukur, sudah tidak ada yang berbahasa Madura kepadaku, mayoritas siswa sekolah ini adalah anak keturunan suku Madura, awal mengajar di sekolah, banyak anak yang mengajakku berbicara bahasa Madura, hasilnya, setiap akhir pembicaraan, aku selalu bertanya, “Bahasa Indonesianya apa?Kakak ga ngerti… “ diiringi dengan gelak tawa dari mereka semua.

            Lamunanku akan kenangan awal mengajar di sekolah ini berhenti karena sosok kecil anak laki-laki paling pendiam di kelas satu, kuperhatikan dia ingin menulis huruf a latin, tapi berulang kali ia mencoba, hasilnya selalu jadi balok not lagu, aku duduk disampingnya, dia kelihatan gugup dan bahkan tidak berani menatap mataku, halaman bukunya sudah penuh coretan pulpen. Kupinjamkan pensil dan penghapus padanya, perlahan kuajari dia, sampai waktu istirahat, walaupun tidak sempurna, namun setidaknya sudah mirip huruf a daripada bentuk tauge ataupun balok not lagu.

            Itu pertemuan pertamaku dengan si kecil paling pendiam. Bahasa Indonesia, Pengenalan Huruf Abjad, Huruf Alfabet yang mirip tauge dan balok not lagu.

            Setelah absen mengajar beberapa pekan, aku kembali mengajar kelas satu, kali ini pelajaran matematika tentang mengenal beberapa bangun ruang sederhana. Mulailah saya berkreasi, guru kesenian plus guru matematika, gambar bola, persegi, balok, prisma, dan seterusnya. Hari itu, hamper semuanya memakai pensil, kecuali si kecil paling pendiam.

            “Adakah yang punya pensil dua, kalau ada, bolehkah kakak pinjam untuk dia?”

            Seorang anak perempuan manis menyodorkan pensil dan penghapusnya padaku, “Aku punya dua kak!”

            “Terima Kasihs ayang… “

            Kupinjamkan pensil dan penghapus pada si kecil paling pendiam. Kuamati dia dari jauh, karena kali ini hampir semua anak ingin mendapatkan perhatianku. Saat waktu menunjukkan bel istirahat akan segera berbunyi, hamper semua telah selesai mengcopy gambar bangun sederhana yang kugambar di papan tulis. Aku mendekati si kecil pendiam, dari tadi kupehatikan, dia ingin sekali menggambar bangun persegi, walaupun jumlah sudutnya benar ada empat, tapi yang jadi bukan gambar bangun persegi, melainkan gambar bangun mirip layang-layang, dihapusnya lagi, digambarulang, begitu seterusnya. Kali ini setelah kupastikan semua anak sudah puas dan tidak merengek perhatianku lagi, aku kembali duduk disampingnya, kuajari dia bagaimana menarik sudut supaya hasilnya tidak menjadi laying lagi. Bel istirahat berbunyi, salah satu temanku memanggil untuk keluar, ada yang harus dibicarakan terkait dengan pentas seni sekolah. Kutinggalkan si kecil paling pendiam yang masih berkutat dengan bangunan layang-layangnya.

            Saat aku sedang membicarakan pembagian tugas pentas seni sekolah dengan relawan yang lain, tiba-tiba ada salah seorang relawan bertanya padaku, “Mbak… habis ini emang kelas satu ada pelajaran matematika lagi ya?”

            Aku menggeleng, “Sudah selesai…”

Entah kenapa selesai berkumpul dengan para relawan tentang pentas seni, aku ingin kembali melongok kelas satu, jam istirahat masih lama, hamper semua anak sudah ada diluar kelas, tapi, kutemukan dia, si kecil paling pendiam masih duduk di bangkunya, ditemani salah seorang relawan, masih berkutat dengan bangunan layang-layang yang sekarang sudah hamper mendekati persegi.

            “Sejak kapan dia disini?” tanyaku pada relawan yang sedang menemani dia,

            “Dari tadi mba… ga istirahat dia… “

            Pagi itu, aku, relawan, si kecil paling pendiam, menetap di ruang kelas sepanjang jam istirahat, menunggu sampai akhirnya dia berhasil membuat bangun persegi, aku tersenyum, dengantangan yang penuh keringat, karena terus-terusan menggambar dan menghapus, dia melirikku dengan tatapan malu sekaligus puas karena berhasil menggambar bangun persegi secara sempurna.  Buku tulisnya tidak lagi sempurna, kotor, penuh bekas hapusan yang ditindih ulang, namun, bagiku, gambar bangun persegi itu tampak sempurna. Sangat sempurna.

           

           

           

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s