ANGKRINGAN JOGJA (Tempat Keren buat ditunjukkin ke Turis Asing)

Image

Germany’s friend.doc

           “Bawa kami ke tempat anak muda Jogja biasa nongkrong”

            Request salah satu dari empat teman saya dari Jerman yang kalau dibahasakan Indonesianya kurang lebih seperti itu. Hampir lima menit saya mikir celinguk kanan kiri, minta bantuan teman saya, dia hanya sama nyengir dan angkat bahu. Dengan pikiran pasrah tapi pasang tampang meyakinkan.

            “Saya tahu kita harus kemana, deket stasiun kok, namanya Angkringan”

            Huru hara itu muncul saat mereka semua turun dari taksi.  Angkringan Tugu adalah angkringan yang tata dekornya hampir mirip dengan semua tempat lesehan pada umumnya. Terletak di pinggir jalan, duduk lesehan di trotoar beralaskan tiker, menggeser red carpetnya para pejalan kaki, penerangan ala kadarnya, kadang dapat bonus penerangan berupa sentrongan lampu motor atau mobil yang baru saja melintas plus tidak ketinggalan polusi asapnya. Saat saya sudah duduk di satu-satunya tempat yang tersedia untuk enam orang,  tiba-tiba salah satu dari teman saya berdiri di depan saya, masih dengan menggunakan sepatunya di atas tiker sambil bertanya, “Dimana mejanya?”

            Saya tersenyum, “Kamu berdiri di atas mejanya”, dan hoops dia langsung meloncat turun dari tiker diikuti tawa dari kami semua.

            Setelah semuanya duduk, waktunya mencicip menu yang ada,

            “What is Ceker Ayam?”

            “Chicken Feet”

            Mereka berempat terkejut sambil menggunakan bahasa tubuh memperjelas bagian ayam yang itu. Saya menggangguk.

            “”..and what is Kepala Ayam?”

            “Chicken Head” jawab saya dengan santai sambil terus menatap menu.

            Reaksi mereka kali ini sungguh lebih kaget, saya hampir ngakak dibuatnya.

            “Kami ingin mencicipi dua-duanya, ceker ayam dan kepala ayam”

            Kemudian saya menawari mereka semua kopi joss,  kopi khas angkringan jogja.

            Kehebohan terjadi pasca mas-mas membawakan sepiring penuh ceker dan kepala ayam. Setelah bertanya bagaimana cara memakannya, berhasillah para ayam mati itu menjadi model alias bergaya setelah mati, teman-teman saya asyik berfoto dengan berbagai macam pose gaya memegang ceker dan kepala ayam. Kehebohan berikutnya terjadi pasca Kopi Joss tersaji, mereka semua langsung terdiam, dan seperti gerakan slow motion di film-film mereka mengeluarkan arang yang masih panas dari dalam gelas kopi, dengan wajah shock,

            “Ada arang di dalam kopi?”

            Oh God! Dalam hati saya berkata, ternyata tidak hanya saya yang jadi udik kalau pergi keluar negeri. Hehe. Semuanya serba berbeda, baru, aneh, dan mengagumkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s