CERDAS DALAM BERPOLITIK MELALUI ZERO HUNGER

BackHungfoto“An empty stomach is not a good political adviser.”
― Albert Einstein

Mau masyarakat Indonesia sadar untuk berpolitik dan cerdas dalam pemilu? Hilangkan dulu kekhawatiran mereka kebutuhan dasar hidup mereka sehari-sehari, yaitu pangan yang layak.

Makanan adalah kebutuhan primer dan permintaan selalu meningkat karena peningkatan jumlah dan kualitas hidup masyarakat. Dengan fokus dalam mengurangi kemiskinan dan kelaparan ekstrim, Indonesia bisa memecahkan masalah lain seperti kesehatan dan produktivitas warga dalam masyarakat. Membujuk orang kelaparan untuk terlibat dalam diskusi politik atau sosialisasi pemilu akan sia-sia. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia selama beberapa tahun selalu diikuti oleh kemiskinan dan kelaparan di perkotaan bersama dengan daerah pedesaan. Yusuf Bangura mengatakan bahwa kemiskinan dan kekayaan yang saling terkait . Kemiskinan di daerah terabaikan bisa menjadi akar banyak masalah sosial , kriminalitas perkotaan, kekerasan, dan masyarakat sangat tidak demokratis. The World Summit for Social Development di Kopenhagen 2005 didefinisikan bahwa ,”Kemiskinan dapat mengambil dalam berbagai bentuk, misalnya rendahnya sumber pendapatan dan produktif yang dibutuhkan untuk menjamin kehidupan yang berkelanjutan; kelaparan dan kekurangan gizi, rendahnya tingkat kesehatan, kurangnya akses ke pendidikan dan layanan dasar lainnya, meningkatkan jumlah kondisi sakit dan sering kematian akibat penyakit; tunawisma dan kurangnya tempat tinggal, lingkungan yang tidak aman, diskriminasi dan isolasi sosial. Saat ini, Indonesia sebagai negara yang telah resmi dinyatakan Millennium Development Goals (MDGs) melalui anggota PBB berkewajiban untuk mencapai tujuan MDGs pada tahun 2015, salah satu capaian yang harus dipenuhi adalah eradicate extreme poverty and hunger.

Krisis bahan pangan selalu menjadi isu rutin “never ending issue” yang muncul setiap tahunnya di Indonesia. Apa menghilangkan krisis bahan pangan akan membawa dampak positif bagi kondisi sosiao ekonomi di Indonesia? Ya, coba kita lihat bagaimana Brazil dengan program ‘nol rasa lapar’.

Brazil dengan program Fome Zero (Zero hunger) berhasil mengeluarkan 20 juta orang dari kemiskinan dalam kurun waktu 2003-2009. Prestasi Brasil di kelaparan dan pengurangan kemiskinan secara luas dianggap sebagai hasil dari kebijakan pro-poor diperkenalkan Presiden Brazil Luiz Inácio Lula da Silva pada tahun 2001. Lula once said that the key point of Zero hunger Project identifying permanent mechanisms to involve civil society as a whole in a broad mobilization process for ensuring healthy food to all our citizens. Ada tiga pilar utama dalam program Fome Zero. Pertama, the Bolsa Família, yaitu program bantuan keuangan untuk keluarga miskin Brazil, apabila keluarga tersebut punya anak, mereka memastikan tentang terpenuhinya akses akan pendidikan dan kesehatan si anak. Kedua, the Alimentação Escolar, menyediakan 47 juta makanan gratis di sekolah setiap hari. Ketiga, the Fortalecimento da Agricultura Familiar, mensejahterakan keluarga petani dengan memberikan subsidi kredit, pelatihan, bantuan teknis, serta asuransi untuk skala kecil bagi keluarga petani. Selain itu program ini juga bertujuan memastikan harga pasar yang stabil untuk produk dari petani skala kecil, misalnya dengan membeli produk makanan lokal untuk program pemberian makanan pemerintah atau bank makanan lokal.

Bagaimana kemungkinan ide zero hunger dapat diimitasi di Indonesia? Harus ada transformasi politik di bidang pangan. Menarik salah satu analisa Hungtington bahwa transformasi politik membutuhkan lembaga, rule of law, dan tatanan politik yang stabil. Proses transformasi ini membutuhkan satu kerangka tunggal yang menggerakkan masyarakat sipil, elit partai politik, lembaga pemerintah dalam satu pakta untuk reformasi pangan di Indonesia.

Keberhasilan zero hunger tidak lepas dari adanya komitmen tinggi dalam level politik nasional, reformasi ekonomi, dukungan eksternal (FAO), dan masyarakat sipil yang aktif. Di Indonesia, untuk membuat kebijakan zero hunger seperti di Brazil melibatkan para pihak yang berbeda.  Di era Lula, parpol pemenang pemilu bekerjasama dengan civil society untuk menarik masyarakat berpartisipasi secara aktif. Ada beberapa pihak yang harus terlibat dalam pakta zero hunger. Melihat fakta politik di Indonesia, aktor yang menentukan kebijakan di tingkat nasional bukanlah rakyat, melainkan para anggota legislatif yang membawa kepentingan partai politik, maka harus ada elit parpol yang benar-benar berkomitmen terhadap isu ketahanan pangan. Selanjutnya, Serikat Petani Indonesia (SPI) adalah contoh dari civil society yang dapat menjangkau masyarakat di level grass root. Kemudian, BULOG, Badan Ketahanan Pangan Pertanian (BKP), Dewan Ketahanan Pangan (DKP), adalah representasi pihak pemerintah yang mana nantinya bekerja sama dengan parpol terkait untuk merumuskan serta mengimplementasikan program zero hunger yang sesuai dengan kondisi geografis, sosial, dan ekonomi Indonesia.

Gerakan ketahanan pangan untuk mencerdaskan bangsa seperti Youth Food Movement Indonesia semakin meningkat intensitas dan belum menyebar ke seluruh wilayah di Indonesia. Namun gerakan ini belum mendapat hasil yang signifikan mengingat dia bergerak secara ‘single’ dan tidak melibatkan para pihak sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya.

Indonesia ingin agar pemilu berlangsung tanpa adanya golput, kerusuhan, money politics, dan masalah lainnya bukan? Salah satu caranya adalah penuhi kebutuhan dasar mereka, pangan yang bergizi. Saat masyarakat miskin tidak perlu mengkhawatirkan tentang ‘apa yang akan mereka pakai untuk beli makan esok hari?’, pendidikan dan penyuluhan tentang kegunaan hak berpolitik mereka akan mudah dilaksanakan dan diterima. Dengan demikian, masyarakat akan sadar hak, kewajiban, dan tanggung jawab mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam momen-momen politik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s