Efek Racun Apel Dongeng Putri Tidur

430520_3571456896101_79011584_nSatu, dua, tiga, empat, sampai hari ke delapan, saya masih bisa bertahan di tengah banyaknya godaan. Mulai dari cowok berwajah bule yang jumlahnya seabrek dan mukanya hampir sama semua, sumpah, ga bisa ngebedain, empat jempol saya maju semua, bahkan untuk blue collar-nya lebih ganteng lagi, dan six-pack-nya itu lhoo. Saya cuma bisa angguk-angguk setuju sambil terus memandang saat temen saya nyeletuk,
“Pantes, Hitler segitu amat nyomobongin banget rasnya, kagak ada yang jelek!”
Celetukan itu mendarat seketika, saat saya dan temen saya baru menjejakkan kaki beberapa meter di stasiun Hauptbahnhof, Leipzig, Jerman. Bahkan, celetukan temen saya kumat lagi waktu ngeliat ada cewek cantik, fashionable, dengan sepatu boot, syal lagi ngonthel alias pake sepeda onta,
“Mbak, ke Indonesia aja, ngelamar deh jadi artis, dapet peran bisu atau diem aja di video clip pasti kendaraannya udah BMW, daripada disini mbak, ngonthel…”
Kemana-mana jalan kaki, mau pake transportasi umum, nanggung, alias mahal, lagian deket kok. Eits, deketnya orang sana “not too far…” itu sekitar dua sampek tiga kilometer jauhnya lho. Ada untungnya jalan kaki, mata bisa jelalatan sepuasnya. Tips, untuk yang ke Eropa waktu summer, jangan lupa bawa kacamata hitam. Dijamin, bisa jelalatan sepuasnya tanpa ketahuan. Masalah tontonan Public Display of Affection (PDA), sexy clothes, cowok nawarin party night sih udah biasa dimana-dimana, maklum kulit tanned asia disana jarang, jadi, sering dah digodain cowok “asian girl”, jadi hal-hal luar biasa di Indonesia jadi pemandangan klasik buat saya selama di sono. Hanya satu, yang saya belum pernah mau deket-deket, alcoholic drinks, karena, waktu di Indonesia, saya pernah mau mencium baunya sekali, ga tau jenis apa’an, tapi, sumpah, ga enak, bikin pusing.
Namanya juga lagi di negeri orang, umur juga udah dewasa secara KTP, then, kebanyakan yang dilakukan orang adalah mencoba apa yang belum pernah dicoba. Toko “wine” disini mah bergelimpangan, murah-murah, lucu-lucu (bentuk botolnya), jadilah, selain free tour of history, ada juga free tour of alcohol drink shops, special untuk alcohol tour, diantar langsung sama seorang professor, because he like it too so much. For your information (FYI), di Eropa, jangan tertawa, berbicara terlalu keras, atau orang-orang disekitar akan mengiramu lagi mabok alias mendem. Padahalkan, kalau di Indonesia, kita becanda-becandaan, terus ketawa keras-keras, ngakak sambil guling-guling adalah hal biasa. Disana, dikira mabok, ajaib!
Gara-gara temen-temen saya banyak yang beli, saya baru tahu, ternyata minuman beralkohol itu ada kadar persenannya, sehingga saya akhirnya bisa tahu juga, dari kadar alkohol seseorang dapat diperkirakan kapan akan mabok dan waktu perkiraan dari dia waras-terlihat mabok. Ngomong mulai ngelantur, mata gak fokus, dan ga mau ngaku kalau udah mabok itu artinya dia mabok. Beer bagi mereka seperti kita minum softdrinks.
Tapi, free tour of alcohol drink shop membawa manfaat, tambahan pengetahuan tentang jenis anggur. Temen saya yang pertama kali nyoba “white wine” alias anggur putih mengatakan rasa anggur putih kayak tape. Setelah mendapatkan penjelasan dari empunya toko anggur, saya baru ngeh, ternyata, Wine adalah cairan alkohol yang pada dasarnya dibentuk oleh jus anggur yang difermentasi. Anggur dihasilkan oleh keseimbangan kimia alami buah anggur. Proses fermentasi dilakukan tanpa penambahan nutrisi buatan seperti gula, enzim dan lain-lain asam fermentasi ini preformed dengan menghancurkan anggur dan menggunakan berbagai jenis ragi. Oalah, jadi hampir mirip kayak bikin tape dari singkong, dikasih “ragi-ragi” gitu. Kalau mau cari anggur paling mahal, jangan ngarep di public display, anggur yang ditaruh di etealasi mah, anggur-anggur murah dan kelas menengah. Kata empunya toko, Chateau Lafite 1787, Yerobeam Chateau Mouton-Rothschild, Le Montrachet DRC 1978 , dan Conti Romanee adalah sederetan nama-nama anggur termahal yang ada di dunia. Ebuset, inget amat ya, pengucapannya aja susah, listening-nya apalagi, dosen saya sampek dibela-belain minta catetan nama supaya inget.
By the way, setelah saya mati-matian berjuang untuk sejauh mungkin dari alkohol, dan berhasil menolak suguhan alkohol sampek detik-detik menjelang pulang. Bencana itu kemudian datang pada saat farewell party di sebuah Restoran Amerika Latin, restorannya sederhana, tapi, salah satu dosen dari sono sampek bela-belain minta mahasiswanya nyariin menu yang ada di restoran ini sehari sebelumnya, nyodorin menu itu ke kita dan meminta kita memilih menu yang kita inginkan, dan dipesankan saat itu juga untuk esok hari. Katanya sih buat jaga-jaga, sehingga pada saat kita datang beramai-ramai (dua puluh orang lebih), si empunya restoran enggak akan kaget, enggak akan kehabisan stock, dan makanannya enggak akan datang terlalu lama. Buset dah, ribet amat. Kalau di Indonesia mah, ga usah diurus gimana si empunya atau kondisi restoran, tinggal pilih-pilih restoran, oke, masuk, pilih menu, kalau habis, cari yang lain, cocok, tersedia, makan dah.
Bencana ini bermula ketika saya memilih tempat duduk yang salah. Not lucky lady. Sebelah kiri saya ada seorang dosen wanita yang luar biasa cantik, pintar, ramah, excellent combination. Sebelah kanan saya, ada temen bule saya, perempuan berkacamata dengan rambut really curly, tapi sangat ramah. I loved both of them, talkative, saat saya ngobrol dengan mereka dijamin ga bakalan garing. Pesanan minuman datang, saya tergirang my favorite drink in Germany coming, minuman campuran sprite, lemon, dan daun mint ditumbuk (saya lupa apa namanya, mojito kalau ga salah, hehe), dan kemudian, satu botol sampanye plus gelas flute (bentuk gelasnya kurus dan tinggi), elegan sih bentuknya, dan kemudian, segelas guede (gelas raksasa) penuh beer dan busanya menghampiri kami. Profesor dengan elegannya menegak flute glass with her champagne, dan temen bule saya dengan gelas bir raksasanya. Awalnya, I felt nothing, hampir empat jam lebih kami semua mengobrol ngalur-ngidul, membual, saling memuji, dan bla-bla-bla.
Time for go home, awalnya gak terasa apa-apa, saat rasanya langit yang penuh bintang-bintang itu muter-muter di atas kepala saya. Temen saya langsung nyamber saya, dipegangnya saya sambil terus jalan, katanya sih jalan saya terseok-seok.
“Kamu mabuk? Heh, kamu minum tha?”, saya berusaha mencerna pertanyaannya,
“Ah, gaklah, mabok apa’an, orang aku ga minum?”, tapi setelah menjawab, kepala saya pusing, bawannya pengen muntah, everything goes wrong. Temen saya tetap mendekap saya sembari nyusul temen-temen yang udah jalan duluan. Kemudian seorang teman bule saya yang tiba-tiba nyelonong berada di samping temen saya bertanya,
“Is she drunks?” tanyanya dengan wajah geli setengah tidak percaya,
“NO, I am not drunks, how could it, I AM NOT DRINKS!” aku menjawab, tanpa sadar dengan nada tinggi, dan mata ga fokus, masih tetap memegangi saya, teman saya berkata,
“Yes, she is definitely drunks!”, mendengar itu temen bule saya tertawa, kemudian berkata, “Tell me what happened to her tomorrow oke, just bring her home safely….”
Entah, sepertinya saya sudah jalan berapa ratus meter sampai akhirnya langit sudah tidak berputar-putar lagi, walaupun perut dan kepala saya masih sedikit ngelu, saya melepaskan diri dari teman saya, berjalan sendiri sembari memiji pundak, feel so dizzy. Temen saya menanyakan kembali “what happened to me”, dengan jujur saya menjawab, bahwa saya sendiri juga ga tau, lha minuman saya itu non-alcohol drinks, sudah dipastikan beberapa orang, sudah diyakinkan sendiri sama yang empunya restoran, temen saya yang minumannya sama juga ga dizzy seperti saya. Then, what’s wrong? Temen saya kemudian tertawa keras, kemudian berkata,
“Jangan-jangan kamu mabok gara-gara gak tahan sama bau alkohol yaa.. buktinya setelah menghirup udara segar beberapa saat, kamu balik baik waras lagi….”
Analisa yang cerdas, tapi saya hanya mengangguk setuju sambil senyum, temen saya masih ngakak ketawa. Sialan. Then, mitos atau cerita-cerita di TV dimana orang-orang yang habis mabok itu langsung tertidur lelap benar-benar terjadi, sampai penginapan, cuma ngelepas sepatu, dan saya langsung tidur terlelap, catet ya, tidur paling lelap selama hampir sepuluh hari saya di Jerman. Berasa jadi sleeping beauty princess alias sok-sokan jadi putri salju yg lagi kena racun apel pemberian si tukang sihir. Tidur sepules-pulesnya dengan baju makan malam masih melekat dan tidur dengan kaki belum sempet dinaikkin sepenuhnya ke tempat tidur. Efeknya, saya ga denger alarm, ga denger temen saya gedor-gedor pintu, eh, temen sekamar saya ternyata ikut-ikutan ga bangun juga. Jadilah, saya datang terlambat satu jam di acara presentasi paper hari terakhir, sampai dosen saya bertanya,
“Ada apa sama kamu? Ga biasanya kamu dateng telat, ini pertama kalinya lho…”
Eh, bukan saya yang jawab, tapi temen saya yang ada disebelah pak dosen persis, “Dia mabok pak…” kemudian yang terjadi saat jeda sepuluh menit adalah cerita mabok tanpa minuman sampai ke telinga dosen saya. Tertawalah dia dengan sangat senang.
Penderitaan malunya saya tidak berhenti sampai situ, cerita “drunk without drink” sampai di telinga teman bule saya. Pada saat lunch time, teman bule saya menanyatakan,
“Are you really drunk without drink? Wow, it’s cheap to be you, If you want get drunk, you don’t need to buy any alcohol drink, just smell it and drunk…” empat orang Indonesia-Jerman di meja tertawa terbahak-bahak. Tapi, kemudian itu cowok bule berhenti tertawa, dan berkata gini kurang lebihnya dalam bahasa Indonesia, “Maaf, tapi, kamu harus berhati-hati, tidak boleh, sangat tidak boleh keluar dengan lelaki jerman sendirian, karena, jika mereka punya niatan yang buruk terhadapmu, mereka tinggal mendekatkan bir mereka ke hidungmu, dan pingsanlah kamu….”
DUENG. Ngeri juga ya. Setelah kejadian mabok tanpa minum itu, pada saat kami diundang makan malem di restoran meksiko, di malem terakhir di Leipzig, temen-temen bule saya pada saat mau minum beer berkata, “Oke, I should move, if not, you will get drunk again…” LOL.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s