Domestic Violence was born from Dating in Violence (Re-Post)

Siklus Kekerasan

Siklus kekerasan, biasanya diperkenalkan kepada korban-korban kekerasan, baik dalam lingkup rumah tangga maupun pacaran. Alasannya sederhana, ketika perempuan atau pasangannya memahami siklus kekerasan, mereka akan menyadari resiko dan bagaimana memutuskan siklus ini. Siklus ini ditemukan oleh Lenore Walker, seorang psikologist feminist yang melakukan penelitian terhadap korban-korban KDRT. Banyak korban KDRT bingung mengapa si pelaku melakukan kekerasan lagi setelah meminta maaf atau menyesali perbuatannya. Bahkan,bukan saja menyesali, si pelaku juga melakukan kebaikan-kebaikan kepada si korban. Hal ini misalnya dapat dilihat dari puisi “Bunga Terakhir” yang mengambarkan bagaimana siklus ini berlangsung, dan berakhir dengan kematian si isteri.

Walker menemukan siklus KDRT sebagai berikut :

1. Tahap ketegangan dimulai (Tension building phase).Ini adalah tahap di mana perbedaan pendapat yang bercampur dengan ketegangan emosi dimulai. Di dalamnya terdapat adu mulut yang disertai dengan nada-nada marah, menekan, sekaligus mengancam. Oleh karena keterampilan komunikasi yang miskin antara kedua pihak, maka komunikasi yang terjadi bersifat saling menyakiti hati.

2. Tahap tindakan (Acting-out phase). Ketika ketegangan tidak dapat diselesaikan dengan baik, maka pelaku akan melakukan kekerasan, khususnya fisik. Ia merasa bahwa dengan jalan ini maka ketegangan dapat berakhir dan situasi akan kembali terkendali. Dengan cara kekerasan, ia juga sedang menunjukkan siapa yang lebih kuat dan berkuasa.

3. Tahap penyesalan/bulan madu (Reconcilliation/honeymoon phase) Setelah si pelaku melakukan kekerasan, ia dihantui dengan rasa bersalah dan penyesalan. Tapi penyesalan ini mungkin saja bersifat manipulatif. Maksudnya, ia menyesal bukan atas kesadaran pribadi, tapi karena takut mengalami konsekuensi lebih berat yang akan diterimanya, seperti perceraian atau dilaporkan ke pihak mertua, tokoh masyarakat, dan polisi. Tidaklah heran bila akhirnya ia menunjukkan penyesalannya dengan meminta maaf atau berbuat kebaikan terhadap pasangan. Pada tahap inilah hati pasangan akan luluh, merasa kasihan, dan memaafkannya kembali. Tentu dengan harapan bahwa si pelaku benar-benar bertobat dan tidak mau melakukan kekerasan lagi.

4. Tahap stabil (Calm phase). Ini adalah tahap di mana rumah tangga kembali diliputi situasi yang relatif stabil. Pertengkaran apalagi kekerasan telah mereda. Kedua pihak bisa jadi telah mengalami kelelahan fisik dan emosi sehingga tidak ada lagi tenaga untuk bertengkar. Namun tidak berarti bahwa mereka telah berhasil menyelesaikan akar masalahnya. Satu ketika kestabilan situasi ini sangat mungkin akan kembali terkoyak bila titik rawan permasalahan muncul kembali dan tenaga kemarahan telah terkumpul. Artinya, satu ketika kedua pihak suami-istri akan kembali memasuki tahap pertamanya. Dan demikian selanjutnya.

Siklus ketegangan – kekerasan – bulan madu – stabil, akan terus berputar dengan intensitas dan kualitas yang semakin tinggi. Akibatnya korban setelah mengalami siklus kekerasan yang sama akan tidak berdaya. Korban belajar bahwa upaya apapun yang ia lakukan tidak akan membuatnya bebas dari relasi kekerasan tersebut. Dengan memahami siklus ini, maka dapat dipahami mengapa korban-korban KDRT umumnya tidak segera mencari pertolongan.

Selain siklus kekerasan, terdapat gambaran roda kekerasan. Roda kekerasan ini aku dapatkan di buku Jika Perempuan Tidak Ada Dokter, yang sayangnya buku ini dipinjam dan belum dikembalikan. Dengan melihat gambar roda kekerasan, akan memudahkan kita untuk menjelaskan bentuk dan mengapa terjadi kekerasan. Sebagai sebuah siklus, kekerasan dapat digambarkan sebagai sebuah roda. As rodanyanya adalah nilai-nilai patriarkhat, sedang jari-jarinya menggambarkan bentuk-bentuk kekerasan yang biasa digunakan. Yang aku ingat, ada sebuah ruas yaitu menggunakan anak-anak sebagai alat atau tameng dalam melakukan kekerasan. Kekerasan psikologis yang menyebabkan banyak korban memerlukan waktu panjang untuk mengambil keputusan. Gambar roda kekerasan ini, sempat aku buat menjadi kartu pos dengan tulisan HANCURKAN RODA KEKERASAN, saat kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan.Sayangnya, aku tidak menyimpan satupun 🙂

Kekerasan Dalam Pacaran (KDP)

KDP belumlah sepopuler dengan KDRT. KDP yang sering terjadi berbentuk kekerasan fisik, mental, ekonomi, psikologis dan seksual. Dari segi fisik, yang dilakukan seperti memukul, meninju, menendang, menjambak, mencubit dan bentuk kekerasan fisil lainnya. Kekerasan psikis biasanya paling sering terjadi dan dimaknai sebagai bentuk “cinta” yaitu cemburu yang berlebihan, pemaksaan, memaki-maki di depan umum, larangan bergaul atas beraktivitas dengan kawan-kawannya. Sedangkan kekerasan ekonomi jika pasangan sering pinjam uang atau barang-barang lain tanpa pernah mengembalikannya, selalu minta ditraktir, mengekploitasi finansial pasangannya. Yang terakhir, kekerasan seksual yaitu aktivitas seksual tanpa persetujuan. Misalkan dipaksa dicium atau memaksa untuk melakukan hubungan seksual, memanipulasi bahwa bentuk cinta diwujudkan dalam hubungan seksual. Bentuk-bentuk kekerasan ini bisa dalam bentuk kumulatif dan bisa menimpa lelaki pula. Namun dalam kebanyakan kasus, perempuan tetaplah menjadi pihak yang dominan menjadi korban.

Bahwa KDP adalah benar adanya, dan sama berbahayanya dengan KDRT dapat dilihat dari data Rifka Annisa WCC yang menemukan bahwa sejak tahun 1994 – 2001, dari 1683 kasus kekerasan yang ditangani, 385 diantaranya adalah KDP. Buku kecil terbitan Rifka Annisa berjudul “Atas Nama Cinta” dapat menjadi referensi untuk melihat dan menyelami sejauh mana dampak KDP bagi perempuan.

Pengalaman dalam menangani kasus kekerasan berbasis gender, membuatku mengambil satu kesimpulan sementara bahwa “KDRT diawali oleh KDP”. Saat merunut sejarah kekerasan (KDRT) yang dialami oleh perempuan, umumnya mereka telah mendapatkan kekerasan sejak dalam pacaran. Asumsi bahwa pasangan akan berubah setelah menikah menjadi salah satu alasan perempuan tetap melanjutkan hubungannya. Intinya ketika hubungan yang dibangun tidaklah sehat, dan tidak mengetahui bagaimana merubahnya menjadi sehat, maka hubungan akan sarat dengan kekerasan. Atas dasar inilah, setiap kali bertemu dengan anak muda, aku memperkenalkan KDP. Dengan memahaminya, mereka memiliki waktu untuk menilai kualitas hubungannya, mendialogkannya dan mencari jalan keluar memutus rantai kekerasan. Harapannya, mereka tidak akan menjadi korban KDRT, dan memiliki hubungan yang sehat dengan pasangannya.Jangka panjangnya akan terbangun keluarga yang didasarkan cinta yang saling mendukung dan membebaskan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s