Pansubjektifitas dalam Pembangunan Bandara Kulon Progo

DSC02566Di tengah berkembangnya isu lahan produktif DIY yang menyempit, proyek pembangunan internasional di Kulon Progo mendapatkan pro dan kontra dari berbagai pihak. Tidak dipungkiri dengan dibukanya bandara internasional yang baru, akses Yogyakarta sebagai kota wisata dan pendidikan akan semakin mudah. Bahkan untuk mengantisipasi jarak yang jauh ke Kulon Progo, pembangunan bandara akan diintegrasikan dengan jalur kereta api bandara sebagai salah satu alat transportasi anti macet. Sebagaimana proyek-proyek besar yang lain, janji bahwa para petani maupun pemilik lahan sekitar tidak perlu khawatir akan kehilangan mata pencahariannyapun telah diberikan. Pemerintah akan mengupayakan para petani tetap bisa bertani dengan penggantian lahan di lokasi lain tetapi tetap di desa itu. Tidak terkecuali janji, bahwa tenaga kerja di bandar udara berasal dari penduduk sekitar.

Rencana tersebut tampaknya sangat menggiurkan, modernisasi segala aspek kehidupan. Namun, perlu diingat bahwa perubahan teknologi yang cepat dapat menyebabkan kemiskinan apabila tidak diikuti dengan perubahan struktur masyarakat di sekitarnya. Wajar apabila ada warga melakukan protes atas pemasangan patok dilahan mereka apabila proses sosialisasi berupa pemahaman bukan sekedar pemberitahuan belum selesai. Hak dan fungsi pemerintah daerah adalah sebagai pengelola, sedangkan masyarakatlah pemilik lahannya. Proses sosialiasi serta penyerapan aspirasi tidak hanya berhenti pada frase diserahkan kepada aparat kabupaten dan aparat desa setempat saja. Perlu adanya pemahaman bahwa masyarakat adalah subjek pembangunan. Pemerintah dan masyarakat adalah satu kesatuan yang holistik, masing-masing berposisi sebagai subjek yang setara, saling menghargai, saling memberi, dan melengkapi. Hubungan di antara keduanya didasarkan pada prinsip pansubjektivitas oleh Alfred Whitehead. Masyarakat harus dipandang sebagai aktor yang memiliki potensi dan kemampuan dalam mengembangkan kualitas hidupnya. Mereka harus dianggap sebagai penerima aktif dari berbagai ragam kegiatan pembangunan.

Bukan hanya piranti yang disiapkan melainkan fokus pembangunan bandara Kulon Progo juga harus diimbangi dengan penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) di sekitarnya. Frase ganti rugi pemilik lahan ataupun petani yang lahannya dialih fungsikan tidaklah tepat, melainkan ganti untung. Pemerintah harus memikirkan solusi dimana tidak hanya ada lahan baru untuk para petani. Tapi, aspek keuntungan yang sama, kesuburan lahan, akses terhadap distribusi keperluan pertanian juga harus dipertimbangkan. Pelatihan soft skill SDM penduduk sekitar sebagaimana tenaga kerja yang diperlukan di bandara. Akses yang equal untuk air, listrik, transportasi yang sama antara bandara dan wilayah sekitarnya. Aspek kelestarian lingkungan hidup sekitar bandara adalah hal yang perlu dimasukkan dalam rencana pembangunan bandara mengingat tidak dapat dihindarinya akibat modernisasi seperti pembangunan hotel, pusat industri, meningkatnya pemukiman penduduk sekitar.

Advertisements

2 thoughts on “Pansubjektifitas dalam Pembangunan Bandara Kulon Progo

    1. (sebaca saya mba) tingkat kesuburan tanah di kulon progo memang tdk tll tinggi, pemda kulon progo jg sdang mengusahakan peningkatan kesburan lahan melalui beberapa proyek pningkatan ksuburan lahan utk membantu warga yg memang mata pencahariannya di bid.pertanian. Nah, di lahan yg dipatok sbg tmpat calon bandara itu, salah satunya lahan pertanian warga, yg mana ada miskomunikasi antara pihak pematok, pemda, dan masyarakat sendiri. Hehe… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s