Matarmaja, Kereta Eksekutif Untuk Pribumi Bangsa (sebelum ber-AC)

Catatan Tahun 2009

Stasiun Malang, lalu-lalang dengan manusia beragam rupa. Ada orang asing eropa , Australia, amerika atau entah mana, sedang menjinjing tas besar dengan baju minim, terlihat payah dan kepanasan dengan kacamatan hitam, kulitnya yang putih kemerahan seakan malu-malu. Disampingnya kuli angkut barang dengan baju hijau membawakan beberapa barang dengan senang hati, wajah dan bibirnya merekah bahagia, rejeki untuk anak dan bini dirumah, hari ini bisa makan tidak hanya sekedar tempe dan sambal terasi, bisa juga menabung buat SPP sekolah anak, atau bahkan mengganti sepatu butut si bungsu yang sudah jebol dan tambalan sana-sini, si bungsu yang tak pernah mengeluh, bapakmu bawa rejeki lumayan hari ini nak.

Bangsa ini tak urung juga berubah, seakan masih dibawah tirani bangsa asing, proklamasi 1945 itu seakan hanya simbolis belaka. Lihat saja itu, seorang pribumi masih menghamba pada orang peranakan asing, menghamba untuk mendapatkan secuil beras dan sepatu. Apakah tidak bisa yang jadi kuli itu orang peranakan asing, bosnya pribumi, aih…masih dalam minoritas bayangan seperti itu.

Aku menunduk merogoh tiket di saku celana, memelototi tulisan “Tidak Ada Nomor Duduk” dengan wajah kesal bercampur sinis. Belum lagi kekesalan hilang, tiba-tiba ada seorang wanita separuh baya, dandanan ibu-ibu dari golongan menengah.

“Mau kemana nak?”, tanya wanita paruh baya itu, logatnya kelihatan bukan orang jawa tulen, ia menyebut dirinya Oma.

Oma itu bercerita tentang asalnya, Manado, suaminya sudah meninggal dan sekarang ia tinggal dengan anak dan cucunya di Jember, karena suami anaknya juga sudah meninggal. Iba perasaan ini mendengarnya.

“Oma mau pulang ke Jember, ternyata harga tiketnya 35ribu, oma Cuma bawa 25ribu…”, tepat saat Oma itu menyelesaikan kalimatnya, dari belakang Oma, seorang bapak-bapak tua yang aku kenal sebagai penjual bakpau, mantau loncat-loncat, melambaikan tangannya padaku, berusaha memberi tanda, dengan tanpa mengeluarkan suara, ia memberi tahu sekiranya begini sambil menunjuk wanita paruh baya yang memanggil dirinya sendiri Oma. “Dia itu gila, jangan percaya sama dia!”

“Hmm…oma mau pulang tapi uanganya kurang 10ribu nak!”, lanjut Oma itu, sepertinya tidak sadar bahwa perhatianku tadi sedikit teralih pada pemberi peringatann.

CETHAK, sakelar alarm kewarasan di kepalaku berfungsi. Pribumi yang ingin merampok sesama pribumi. Ini jelas-jelas kejahatan bermodus penipuan. Akhirnya kutemui juga orang-orang di berita criminal tv secara langsung. Ibaku hilang, perasaanku mati rasa. Aku tersenyum kecil, kemudian melenggang cuek meninggalkan Oma itu. Hujan mengguyur dengan derasnya. Kereta matarmaja dengan cat warna Oranye mencolok serta hijau muda itu bergerak perlahan menuju jalur satu. Tiba-tiba terdengar orang di sampingku berkata,

“Tolong lho ya mas, makasih!”, logat Jakarta sekali, aku mengamatinya tanpa sadar, wanita berumur 30-an, dengan dandanan norak, dan rambut cepak ikal. Sepertinya minta tolong pada cowok tinggi tegap di sampingnya untuk membantu mengangkat kardusnya yang lumayan besar. Kemudian ia menengok padaku, ia tersenyum ramah,

“Dapat tiket gak ada tempat duduknya nak…temenku itu lho, aku pesenin buat beli tiket ternyata gak bisa…padahal aku tadi udah datang jam setengah sebelas lho, itu udah abis!”, keluhnya spontan padaku.

“Duduk saja dulu seadanya, ntar kalau diusir sama yang punya kursi baru kita berdiri, pilih aja gerbong bagian depan-depan gitu…biasanya agak kosong….”

Ia tersenyum, merasa senang. “Gitu ya nak!”. Untuk basa-basi aku menanyakan isi kardus wanita itu, karena kelihatan besar dan lebar. Sekilas ia kelihatan malu-malu untuk menjawab.

“Isinya buah-buahan, ada labu kuning, disini satu harganya 10ribu, di Jakarta, setengah harganya 35ribu, terus ada tomat, apel, pokoknya buah-buahan buat di jus!”

Memang benar kata orang, di Jakarta, rakyat golongan menengah ke bawah, yang kebanyakan diisi oleh pribumi bangsa sendiri, untuk esok pasti berpikir, “Besok aku makan apa ya?”, sedangkan orang golongan atas, kaum borjuis, kaum kapitalis, cenderung berpikir, “Besok aku makan siapa ya?”. Selalu modal dan modal, demokrasi hanya symbol, mungkin bangsa ini lebih pantas menjadi Negara Plutokrasi, pemerintahan yang dijalankan oleh orang-orang kaya.

Gerbong lima, tempat duduk di dekat pintu masuk, aku, wanita Jakarta itu, dua orang cowok sebaya denganku. Kami berempat sama-sama tak dapat kursi, dan duduk seadanya. Setiap pemberhentian stasiun berharap-harap cemas tidak terusir. Pemuda bertopi di depanku, sedikit-sedikit mendekap tasnya, bersiap-siap berdiri setiap ada penumpang baru yang memasuki gerbong. Berapa kali pula aku menenangkannya.

Beberapa menit mengobrol dengan ketiganya. Jelaslah tujuan masing-masing. Wanita berusia 30-an itu adalah suster di salah satu Rumah Sakit di Jakarta, cowok bertopi berkulit coklat yang tadi membawakan kardus akan menuju Bekasi, cowok putih dengan kacamata akan turun di Manggarai, semuanya Jakarta, kecuali aku yang akan turun di Madiun.  Kami bertiga tertawa kompak saat wanita itu bertanya, “Malang lagi musim apel ya?”. Kemudian cowok bertopi itu menjawab dengan muka geli, “Bukan lagi musim buk, tapi emang di sini gudangnya apel, gak usah pake musim-musiman, ada terus!”.

Dengan tenang dan sombongnya aku mengeluarkan buku, menghabiskan waktu, menghilangkan rasa cemas akan terusir dengan membaca. Merasa diri sebagai golongan pribumi yang sudah paling terpelajar. Calon sarjana.

Pemandangan dari kereta sepanjang sore memang luar biasa indahnya. Terlihat jelas bagaimana lukisan tangan Tuhan melalui petani-petani jawa. Padi-padi tertanam di pematangan sawah berjejer rapi dengan polanya sendiri. Hijau dan segar di mata. Sepanjang jalur kereta, hanya terlihat rumah-rumah desa dengan pelatarannya yang khas. Udaranya segar, pepohonan berjejer rimbun, menghimpun segenap oksigen untuk manusia, cara yang unik untuk berdzikir pada Alloh Yang Maha Mulia, penguasa kerajaan bumi dan langit. Duh Gusti…itu sebutan orang jawa pada Tuhannya. Beberapa ekor itik menyosor-nyosor Lumpur, mencari cacing barangkali. Sederatan pohon pisang dengan bonggol yang besar-besar. Petani pisang terlihat puas mengamatinya.  Tanah-tanah dekat rel kerete yang dulu kosong diisi ilalang, sekarang berdiri melengkung deretan singkong muda. Pohon nangka dengan buah yang hampir ranum. Di tempat lain, pematang-pematang sawah berubah menjadi tanah lapang, hendak dibuat perumahan oleh kontaktor pemenang tender, bertambah subur saja bangsa ini. Ledakan penduduk, pemberi makan penguasa.

Kecemasan akan terusir itu berbuah juga, menetas dan merekah tanpa terbendung saat seorang bapak-bapak gendut, datang dengan seorang perempuan, membawa gerombolan anak-anak kecil dan seorang bayi dalam gendonga jarik batik jawa. Khas Solo. “Permisi mbak…maaf lho ya!Ini tempat duduk saya, kalau gak percaya ini karcis saya!”

Aku ciut, mau apa, tak bisa, aku cuma manggut-manggut sambil dengan berat hati memasukkan buku bacaanku ke dalam tas, “Berakhir sudah berakting ala borjuis, ala tuan putri, that’s ended!”.

Keangkuhanku sebagai seorang terpelajar seakan diruntuhkan oleh kenyataan yang baru saja kulalui. Aku memang belum terlalu miskin, belum terlalu tak mampu. Keangkuhanku akan penampilan dan style tetap saja tak bisa membuatku mempertahankan tempat duduk itu. Berdiri  di gang pintu kereta api, bersama-sama penumpang lain yang mendapat tiket BERDIRI, TIDAK ADA NOMOR KURSI. Mereka dengan santainya berdiri di depan pintu WC, yang baunya saja sudah membuatku ingin muntah. Tak pernah aku sesengsara ini, berdiri di kereta ekonomi, karena kehabisan tiket, kuakui itu memang salahku, dan mungkin benar kata-kata Masku, aku ini manja. Melihat begitu enaknya orang-orang duduk di depan pintu terbuka sembari menyedot rokok beralaskan Koran, membuatku terheran-heran. Hembusan angin sejuk dari pintu yang terbuka, seperti angin surga di dalam kereta yang begini pengap. Aku bertanya, inikah balasan Negara kepada rakyatnya? Bagaimana mungkin pejabat-pejabat Negara itu melenggang dengan mulusnya kesana kemari dengan mobil Mercedes seharga empat milyar. Sedangkan rakyatnya di sini, selalu khawatir akan digusur sewaktu-waktu, diloncati orang-orang yang lalu-lalang berjualan, ataupun petugas satpan yang wira-wiri mengecek keamanan.

Akan kugambarkan bagaimana pemandangan di gang sempit kereta ekonomi ekspress Matarmaja itu. Di pintu seberangku, ada dua orang laki-laki muda yang sedang asyik dengan rokoknya, satu orang berdiri tepat di pintu WC, satu orang anak kecil tertidur sambil duduk tidak beralaskan apa-apa. Di gang sambungan gerbong lima dan enam penuh dengan laki-laki remaja yang mulai tertidur, orang yang lalu-lalang selalu menggerutu saat melewati mereka, “Menghalangi jalan saja”, ujar mereka dalam bahasa Jawa ngoko. Tepat di Tulungagung, dua orang laki-laki tua masuk, dan langsung menaruh tas besar warna hitam disampingku. Seorang bapak tua disampingku lebih tua dari lainnya, lebih mirip kakekku. Dengan kulit hitam agak kecoklatan, matanya yang kemerah-merahan, pertanda jam tidurnya yang tidak terlalu lama, tubuhnya kurus, namun terlihat masih segar bugar, dari kaki dan tangannya memperlihatkan kehidupannya yang keras dan kasar.

Seorang laki-laki sebaya yang sedari tadi mengantri toilet menyenggolku sampai aku mundur ke belakang karena kereta bergoncang kuat, aku meringis kakiku terinjak kuat-kuat.

“Oalah…sudah kecil, kakinya diinjak, tambah penyet nanti nduk!”, kata Bapak Tua itu dalam bahasa Jawa ngoko. Aku sedikit lega, dari tadi aku bicara bahasa Indonesia full version dengan orang asal Bekasi, Manggarai, dan orang Jawa yang sudah terlalu lama tinggal di Jakarta.

Aku tersenyum kecil, kemudian bapak tua yang tak kukenal namanya itu meneruskan melalui pembicaraan, rasanya untuk berusaha menghilangkan kecurigaanku padanya.

“Darimana dan mau kemana nduk?”, ia menyebutku dengan nduk, panggilan orang jawa pada anak perempuan.

Aku menjelaskan secukupnya, namun tetap berusaha berwajah ramah, dengan bahasa jawa kromo inggil. “Saking Malang Pak, badhe wangsul teng Madiun, preian semester!”[1]

Aduh kaki ini, ingin ditekuk rasanya. Pertanyaannya berlanjut, “Kuliah dimana?Ambil apa?Semester berapa?”. Saat kata HUKUM terlontar dari mulut ini. Langsung saja mukanya terlihat masam. Nada suaranya berubah, menyengat dan sengit;

“Orang hukum itu bekerja berdasarkan uang, coba lihat sekarang, bukan hukum yang mengendalikan keadilan, tapi uang yang mengendalikan hukum untuk menentukan seperti apakah rupa keadilan, kebijakan-kebijakan yang dibuat malah menyengsarak rakyat banyak, liat…”, dengan isyarat mata menyuruhku melihat sekeliling, “…sebuah kereta ekonomi untuk rakyatnya, persembahan dari Negara untuk rakyat tercinta… asas timbal balik yang tak setimpal, sudah tak layak, jelas-jelas sudah tak ada tempat duduk untuk sekedar memberikan mata, hak untuk beristirahat, masih saja dijual tiketnya. Dulu pernah, ada seorang menteri naik kereta ini, tapi ya gitu nak, dijaga ketat, satu gerbong buat dia..”, ia tersenyum merendahkan sekaligus prihatin, “… dijaga ketat oleh polisi atau apalah namanya, sama saja dia gak ngerasain berdesak-desakan, duduk di gang, tidur di lorong…gitu kok mau buat kebijakan yang mengenakkan rakyatnya, yang enak apa gak aja, mereka itu gak tau!..” ia meneruskan keluhannya tentang hukum Negara yang buruk dan hitam menurutnya, makin lama ia semakin mirip guru atau dosen daripada sekedar pensiunan Tamtama atau apalah, pokoknya militer yang pensiun di usia masih sangat produktif, 45 tahun. “Namanya juga udah aturan dari sononya nduk, masak mau dilawan!”, jawabnya saat aku bertanya, “Wah Pak itukan masih muda? Masih seger buger!”.

Bahkan saat semangat guru tanpa bayarin ini semakin meningkat, semakin membuatku merasa tambah dungu yang dapat ilmu tanpa membayar, aku sempat su’udzon, jangan-jangan dia ini seorang dosen fakultas ilmu sosial yang sedang melakukan riset secara langsung dengan metode empiris normative untuk gelar doctor atau profesornya. Bahasa yang ia gunakan untuk menerangkan kadang terasa asing, namun lugas dan sistematis.

Bapak tua itu mengatakan, hukum, keadilan, kesusilaan, kebenaran dan pengetahuan bukan lagi berasal dari budi nurani, tapi berasal dan diatur oleh modal besar. Bicara meracaunya seperti parkit padam seketika, diganti oleh batuk-batuk, “Dulu memang saya merokok, tapi sekarang sudah tidak, malahan kalau bau asap rokok bawaannya batuk-betuk terus”. Untuk sejenak, ia terdiam, menjinakkan batuk pada tenggorokannya, kuperhatikan mulut bapak tua itu hitam sekali, pertanda mudanya dulu, ia perokok berat, batuk itu mungkin pertanda racun rokok, si nikotin  mulai merambat dan menggerogoti paru-parunya, seperti yang terjadi pada kakekku, paru-parunya menghitam sebelah.

“Saya ngomong begini bukan tanpa alasan nduk, kamu sebagai orang hukum pasti tau kasus Artalyta dan Aling yang sel penjaranya di Rumah Tahanan Wanita Pohon Bambu udah seperti hotel berbintang itukan?Itu menunjukkan bahwa penegak hukum di Negara kita ini, menganggap uang adalah tujuan utama atau hal yang wajib dikejar, uang bukan lagi dianggap sebagai konsekuensi dari pekerjaan…

Coba kalau koruptor-koruptor itu dikasih shock therapy ala Perdana Menteri China, Zhu Rongji, siapa yang korupsi, tidak tanggung-tanggung pasti dihukum mati, satu contoh nduk, Zhu di awal tugasnya mengirim peti mati kepada koleganya sendiri. Hu Chang-ging, Wakil Gubernur Provinsi Jiangxi, pun kebagian peti mati itu. Ia ditembak mati setelah terbukti menerima suap berupa mobil dan permata senilai Rp 5 miliar, sayang ya, pejabat Indonesia tidak ada yang seberani itu…”

Hatiku semakin ciut. Bapak Tua ini tahu juga tentang Zhu Rongji. Kutundukkun kepalaku dalam-dalam, mengangguk-angguk, semakin malu aku dibuat oleh diriku sendiri, aku tak terlalu mengikuti kasus-kasus aktual Negara, terlalu munafik dengan tugas-tugas dan makalah teoritis kuliah. Kampus yang seharusnya menjadi ranah gerak mahasiswa, malah menjadi pihak yang menimbulkan kerentangan, kerenggangan kehidupan social antara mahasiswa dengan kenyataan hidup yang sebenarnya. Lihat saja kampus yang dipenuhi dengan mobil-mobil dengan harga lebih dari setengah milyar, sedang di luar kampus, penuh dengan rumah penduduk yang sempit, berdempet-dempet, dan kebanyakan berprofesi sebagai pedagang kelontong. “Memang ada sekarang pengacara yang mau membela tanpa dibayar? Coba sebutkan ada berapa teman-temanmu yang peduli sama buruh dan PKL?”, saat ditanya hal tersebut, aku menjawab dengan lirih, “Sedikit Pak, masih minoritas…”.

Kereta api kemudian berhenti perlahan di tengah-tengah kegelapan, berhenti dengan kasar. Beberapa saat kemudian, lewatlah kereta api lain dengan kecepatan tinggi. Membuat rambutku terangkat-angkat ke atas karena anginnya yang menderu ke dalam gang tempat aku berdiri menimba ilmu. Angin sejuk di tengah-tengah pengapnya udara kereta ekonomi ini.

“Kuliah di hukum itu sama dengan kedokteran!”, lontarnya tiba-tiba, ia tersenyum geli melihat ekspresi heran dan terkejutku. Kemudian ia meneruskan dengan lagak keguruannya, sekali ini aku memang hanya seorang murid, orang ini bukan orang biasa, sudah banyak makan asam garam lautan.

“Sama-sama bekerja untuk benda hidup dan orang banyakkan? Sama-sama mengabdi untuk rakyatkan?Sama-sama…ada uang ada jasa atau layanankan?Melayani ke atas yang punya yang dan melayani ke bawah yang tak punya cukup uang…”

“Tidak semua orang hukum seperti itu!”, aku memotong dengan cepat. Ia sedikit kaget dengan tangkisanku, ibuku orang jawa tulen, masih memegang teguh tata krama jawa, walaupun aku masih ingat apa yang beliau selalu ingatkan padaku,

 ‘Kalau ada orang tua ngasih petuah dan ngedumel soal jurusanmu, dengerin aja, terus kalau ditanya, lagaknya jangan sok menggurui, jangan mbantah, tersinggung ntar, kamu bisa dianggep kurang ajar, gak tau tata karma ngomong sama orang yang lebih tua!’.

 Tapi tidak tahan juga rasanya saat orang terus-terusan mengkritik, sesaat ia terlihat akan tergelak dan terbahak, namun tidak jadi. “Jenenge wong, nek wes nduwe kekuasaan, pikirane kuwi, kakehan mesti korupsi, tapi nduk, neng awakmu, kudu iso bedo.[2] Aku lihat kamu bisa nduk, walaupun memang susah untuk merintis apa yang seharusnya terjadi, tapi harus tetap berusaha, jangan cuma insya Alloh, pengertian orang sekarang insya Alloh itu artinya ragu-ragu, abu-abu, gak yakin…jawabanmu harus bisa!Tekankan prinsip tidak suka ditindas, tidak suka menindas, dan tidak suka adanya penindasan…”. Liberal Jawa.

Setelah menyelesaikan seminar, pidatonya padaku, ia menguap, berusaha memejamkan mata sambil berdiri, meninggalkan aku sendiri, berpikir tentang aku yang tak paham akan negeriku sendiri. Ketakjuban akan Ilmu, teknologi eropa, amerika, asia, menjadi nomor kesekian. Ingin aku memejamkan mata karena lelah, berdiri hampir tiga jam sudah, namun mata menolak mentah-mentah untuk kupejamkan. Hanya mengerjap dan menutup sebentar, dibangunkan oleh penjual nasi bungkus yang lalu-lalang sedari tadi dan petugas keamaan kereta berbaju biru dongker yang memperingatkan penumpang yang duduk di pinggir pintu untuk berhati-hati, sebentar lagi kereta akan berpapasan dengan kereta berisi bonek dari bandung. Sekejap saja, gang kecil yang sedari tadi diisi obrolanku dengan bapak tua tadi menjadi cicau ramai orang saling bertukar pengalaman pribadi tentang bonek, entah itu yang nyaris terkena lemparan batu atau dijarah oleh bonek yang kelaparan, hanya singgah di telingaku sebentar. Kembali teringat pada masalah besar dalam pikiranku.

Jam tanganku menunjukkan dengan malasnya, masih setengah jam lagi aku harus berdiri. Banyak pokok-pokok pembicaraanku dengan bapak tua itu yang aku tak terlalu mengerti. Terlalu lelah dan mengantuk. Perutku keroncongan jawa. Namun tetap saja kesal karena aku, seorang Mahanya siswa tak mengerti tentang kehidupan bangsa sendiri.

 Telak kalah, aku bersandar di dinding kotor kereta. Calon sarjana ini dikalahkan, dibantai secara memalukan oleh seseorang yang bahkan mengenyam sekolah menengah atas keguruanpun tidak tamat. Terpaksa putus sekolah karena biaya.

Aku terlalu terbuai dengan diriku, ilmuku dan kelebihanku. Betapa kerdil otak ini di hadapannya. Menunduk, memandang lantai kereta yang bergoyang-goyang, memandang luar yang hanya terlihat hitam, kadang terlihat sepintas kerlipan lampu di kejauhan. Aku hanyalah seorang kaum intelektual terpelajar Negara yang tak mengenal bangsanya sendiri. Semua yang dikatakan bapak tua itu terlalu rumit dan banyak untuk dicatat. Maafkan aku diriku, masih miskin pengetahuan ini dibandingkan dengan bapak tua tak bergelar SLTA/SMK ataupun MTs itu.

Hujan mengguyur dengan derasnya saat perpisahan antara guru tak berbayar dengan murid dungu yang buta akan wajah-wajah politis bumi pertiwi, dan tuli akan suara-suara rakyat pribumi yang mengais-ngais keadilan.

Catatan  ini berakhir sekiranya pada pukul 20.35 WIB saat Matarmaja Ekspres itu berhenti di Stasiun Madiun. 2009.


[1] Dari Malang Pak, mau pulang ke Madiun, liburan semester

[2] Namanya manusia, kalau sudah punya kekuasaan, orientasinya pasti menimbun kekayaan, tapi Nduk, untuk dirimu itu harus berbeda orientasinya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s