Do you will find a same ‘Mukena’ in overseas?

DSC08157

Photo: Mushalla in University of Oslo, Norway 2013

Mengingat begitu sakral penggunaan mukena dalam shalat bagi kaum hawa, serigkali orang beranggapan bahwa syarat sah shalat itu harus pakai mukena.

 Padahal kalau kita usut lebih jauh ke dalam kajian fiqih, sebenarnya yang menjadikan titik poin sah dan tidaknya shalat adalah menutup aurat. Kebetulan mukena memang dapat menutup aurat wanita juga.[1]

Namun pakaian yang menutup aurat wanita tentu saja tidak harus selalu dalam bentuk mukena. Sebab syariat Islam pada dasarnya tidak menetapkan model, bentuk, potongan, corak atau warna tertentu dalam berpakaian atau menutup aurat.

Pakaian model mukena ini memang memenuhi syarat dalam hal menutup aurat. Tetapi bukan berarti menjadi satu-satunya pakaian yang memenuhi syarat dalam menutup aurat. Jangan sampai shalat ditinggalkan cuma gara-gara tidak ada mukena. Sebab yang jadi ukuran adalah urusan menutup auratnya, bukan mukenanya.

Para wanita di negeri Arab sana malah sama sekali tidak pernah shalat pakai mukena. Mereka menggunakan abaya, yaitu sejenis pakaian khas wanita yang menutupi seluruh tubuh juga. Tetapi model, potongan dan coraknya tidak seperti mukena. Dan yang paling membedakannya adalah warnanya yang hitam legam.

Ini sangat jauh berbeda dengan mukena khas bangsa kita yang umumnya berwarna putih. Walau pun saat ini mulai berkembang mukena dengan beragam warna dan motif, tetapi umumnya tetap dominan warna putih.

Kemudian, termasuk syarat sah shalat bagi wanita adalah menutup seluruh auratnya. Tak terkecuali menutup kepalanya. Terdapat sebuah hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah SAW bersabda:

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ امْرَأَةٍ قَدْ حَاضَتْ إِلَّا بِخِمَارٍ

“Allah tidak menerima shalat wanita yang telah baligh, kecuali dengan memakai jilbab.” (HR. Ahmad 25167, Abu Daud 641, Ibnu Khuzaimah no. 775 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Dari Aisyah : Rasulullah bersabda : tidak diterima shalat seorang wanita yang sudah mengalami haidh (wanita dewasa), kecuali mengenakan baju yang menutup aurat ( HR. Ibnu Majah, Abu Daud)

Jadi, sebaiknya, kalau kamu traveling atau long stay di negara yang Islam adalah minoritas, ketersediaan mukena di mushalla ataupun masjid, is not available like in Indonesia. Istilah mukena tidak terlalu familiar di luar negeri, para perempuan muslim di luar negeri, melakukan ibadah solat dengan baju yang mereka kenakan, yang mana baju yang dipakai longgar, tidak menampakkan lekuk-lekuk badan, dan menutup aurat.

Amannya, untuk tetap menjaga solat dan bagi perempuan yang belum memakai jilbab ataupun yang sudah memakai jilbab, bawa mukena dari Indonesia kemanapun (mukena bag), masukkan dalam tas, jangan lupa pasmina kecil sebagai sajadah. Cuz sometimes, it still feel so weird we you don’t get used to yet, praying without mukena.

Remember, hold on to your Salah, if you lost it, you lose everything!

Perbedaan tempat dan waktu tidak menjadi alasan kita lupa akan nikmat Allah yang kita terimakan? Say alhamdulillah…

Sumber:

[1] https://www.islampos.com/bolehkah-wanita-shalat-tanpa-mukena-124788/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s