Newbie in Jakarta, Grabbike or Go-Jek?

http://www.octarendra.com/pilih-gojek-atau-grab-bike-baca-gojek-vs-grab-bike/
http://www.octarendra.com/pilih-gojek-atau-grab-bike-baca-gojek-vs-grab-bike/

Promo Grabbike lima ribu. Setelahnya promo Gojek 10ribu. Are you kidding me? siapa yang ga mau, di Malang, tarif ojek jarak dekat sekitar 30-35ribu. Baik, Grabbike ataupun Gojek, aplikasinya cukup mudah

setelah proses registrasi, mau dijemput dimana, dan drop off dimana, biaya yang dikeluarkan, nama driver dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Saya berpikir dengan aplikasi yang seperti ini, maka driver yang dipilih oleh app untuk klien adalah driver yang sudah tahu dimana jemput dan dimana harus drop off. Tahu arah/tahu peta Jakarta.

Pengalaman pertama naik Grabbike di era promo lima ribu, driver ramah, tapi maaf bau badan, second time, driver-nya ga tau jalan, alias setiap lima meter atau sepuluh meter, berhenti, tanya orang, “SMA 3 mana ya?”, and need to be underlined, saya disoriented sama Jakarta, all I know, saya numpang di kost temen di daerah setiabudi, dekat SMAN 3 Jakarta. Untung, akhirnya saya inget dikit-dikit jalan balik ke kost temen, waktu saya bayar, uang yang saya kasih kelebihan dua ribu, maksud hati mau bilang, “Pak itu kelebihan dua ribu!”, eh, drivernya terima uang, buang muka, langsung cabut. Okay, thats how it was for Grabbike.

Then, kedatangan kedua ke Jakarta, saya manuver ke Gojek, pasca ada keterangan, “your driver will arrive in 5 minutes”, saya keluar dari stasiun pasar senen, masih dalam kondisi pegang hape dan berhenti di depan pintu masuk stasiun, tiba-tiba saya dibentak sama bapak-bapak, “Kalau nunggu Gojek, sono tuh di halte bus, jangan di depan sini, saya capek ribut”, siapa ga kaget tiba-tiba dibentak begitu. Ditambah my first driver Gojek tidak memakai jaket dan tidak menggunakan helm Gojek (ini normalkah?), jadi saya awalnya agak parno, a bit insecure, ‘ini beneran driver Gojek ga ya?’. Setelah meyakinkan bahwa emang driver Gojek yang saya pesan, naiklah saya sambil ngomel-ngomel lebih tepatnya cerita kalau saya habis dibentak-bentak gara-gara nunggu Gojek. Drivernya ketawa-ketawa sambil jelasin ’emang lagi konflik mba’, and again, drivernya ga tahu jalan taman setiabudi itu mana. Setelahnya saya bilang, pokoknya nyampek sudirman dulu deh pak, ntar saya kasih tahu kemananya (dalam hati komat-kamit semoga masih inget). Drivernya sih ramah, saking ramahnya, pas dia tahu saya newbie di Jakarta, eh, dia mulai flirting, aahhh…. (Istighfar, ingatlah Allah dan engkau akan menjadi tenang). Intinya, don’t give shit information to stranger.

Last, saya kembali balik ke transjakarta. A bit walking, but less swearing.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s