Warsaw: Expired Bus Ticket!

WarsawTraveling (Backpackers) sendiri di Eropa? Why not? Someone said, “…you never know when you will get another change to Europe by scholarships, so, used it wisely,visit somewhere that you never been there”. Teman satu flat mengatakan untuk menggunakan couchsurfing untuk solo traveling di Eropa, selain untuk menghemat biaya, couchsurfing merupakan kesempatan besar untuk berinteraksi dengan penduduk lokal.

Untuk maskapai penerbangan, teman saya menyarankan untuk menggunakan jasa Ryan Air, the cheapest flight in Europe, dengan track record penerbangan no delay alias on time. Bedanya, bandaranya bukanlah bandara utama, Oslo Airport di Gardermoen, melainkan Rygge, yang terletak 60 kilometer di luar kota Oslo, uniknya, tempat duduknya seperti bus, tiket tidak ada nomor tempat duduk, alias bisa milih sendiri, jadi, untuk tempat duduk, kita harus berebutan to get the best seat, for me, tempat duduk dekat jendela. Di bagian paling depan ada papan penunjuk waktu, yang mana para penumpang dapat melihat waktu keberangkatan dan waktu kedatangan pesawat. Pada saat pesawat landing dengan on time, ada musik dan suara tepuk tangan dari speaker pesawat, yang intinya menyatakan, walaupun Ryan Air adalah maskapai dengan low budget tapi tetap professional dengan waktu. Heboh banget ya.DSC022891

Tiga hari di Warsawa diisi dengan jalan-jalan keliling kota tua untuk mengunjungi beberapa ‘have to visit in Warsaw’ dengan modal peta gratis dari Tourist Information Center (i) seperti Palace Square di Stare Miasto (Kota Tua), The Syrenka Mermaid Statue, Lazienki Park, Fryderyk Chopin Museum, dan The Tomb of the Unknown Soldier. Di hari kedua saya di Warsawa, host saya bertengkar hebat dengan teman satu flatnya tentang masalah sanitasi, recycling garbage, dan kran kamar mandi yang bocor. They yelling to each others, diam di kamar adalah pilihan terbaik saat itu. The end of the day, saya menemani host saya yang sedih dengan membeli es krim sambil duduk di town square, menikmati matahari yang baru mulai tenggelam pukul sepuluh malam. Semuanya berjalan lancar hingga hari terakhir, pamitan dengan host, menghabiskan receh zloty (mata uang Polandia) untuk beli permen, duduk manis di peron terminal Warsaw Zachodnia, menunggu bus malam ke Berlin datang.

10487605_10201790052464031_2331070001265563619_n

Pada saat bus datang, saya dengan penuh percaya diri menyodorkan ticket online yang sudah saya cetak lewat printer perpustakaan kampus, perasaan saya mulai tidak enak karena pemeriksaan tiket saya membutuhkan waktu lama daripada penumpang yang lain, dan feeling tidak enak saya terbukti saat co-driver tiba-tiba berkata, “Namamu tidak ada dalam list penumpang kami, tiketmu expired, kamu beli tiket ini 25 Mei (25/05) bukan 25 Juni (25/06)..”. Keringat dingin langsung mengalir di belakang tengkuk kepala. Mata mengejap beberapa kali. My bad, not checking twice for the ticket. Otak saya kosong untuk beberapa saat, berjalan menjauhi bus, berharap masih ada satu loket di terminal yang masih buka. Zero. Di tengah-tengah kebingungan saya melihat co-driver sedang membeli kopi panas di kedai mesin kopi terdekat, dengan wajah memelas, bingung (serius bingung bukan akting), saya berkata, “Bisakah anda beritahu bagaimana caranya agar saya bisa sampai di Berlin besok pagi? Loket bus sudah tutup, saya kehabisan zloty, handphone saya tipe classic yang mana tidak bisa browsing lewat internet, saya kehabisan pulsa, tidak ada toko di terminal yang masih buka, yang saya punya hanya uang dalam euro…”.

Dia terdiam sesaat hingga akhirnya dengan bahasa isyarat, dia menyuruh saya untuk ikut dengannya bertemu dengan supir bus utama, saya disuruh menunggu di luar bus sementara mereka berdua berdiskusi. Entah apa yang didiskusikan mereka berdua dalam bahasa yang saya tidak mengerti, tiba-tiba saya dipanggil dan mereka berkata dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, “Kita masih ada satu seat kosong, kalau mau kamu bisa beli tiket dalam mata uang euro…”. Saking senengnya, saya mau lompat-lompat, kata terima kasih entah berapa kali terlontar dari mulut saya, beberapa lembar mata uang euro meluncur cepat keluar dari amplop, nama saya dicatat sebagai penumpang bus yang sah, officially bus passenger, lucky I am, satu seat kosong dekat dengan mini bar, space-nya bisa buat selonjoran kaki lurus ke depan. Bersandar nyaman di kursi bus malam ke Berlin, saya hampir mengutuk diri sendiri, lain kali, cek tiket keberangkatan lebih detail, dua kali, tiga kali kalau perlu, terutama soal tanggal dan jam keberangkatan. At least but not last, I made it to Berlin for the next morning. Goodbye Poland! You’re still my beautiful one.

6459_4705586768639_1711406925_n

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s