Stockholm: Akhirnya Keluar Juga dari Norway

Guide Book

Timeline kuliah, reading material yang seabrek, tugas akhir double (paper + written), dan hunting teman traveling yang willing to diajak backpacker membuat jadwal jalan-jalan harus tertunda berulang-ulang kali. Paris. Cancel. Northern Light di Tromsø. Cancel. No more Cancel after this.Beberapa orang mengingatkan, “Tujuan kesini itu belajar lho ya, bukan jalan-jalan”. Hehehe. My bad maybe, but we never know when we could get here again anyway. In Europe. It’s so damn expensive if not through scholarships (100% scholarship. Note it!). Sering saya berdiskusi dengan beberapa teman di flat, menggali informasi untuk transportasi murah, penginapan murah, pokoknya serba cari first price deh.

ssssJawabannya adalah Visit Sweden, Stockholm. Mengindahkan perkataan, “Traveling ke negara-negara Scandinavia itu lebih mahal daripada negara Eropa yang lain”, prinsipnya, pokoknya traveling keluar Norwegia. Karena rencana ke Stockholm adalah rencana dadakan, saya tidak berharap dapat tiket promo. Atas saran teman, kereta paling murah dari Oslo ke Stockholm adalah SJ. Kami booked tiket Pulang Pergi sekaligus dari Oslo S – Stockholm C, untuk Youth (show your ID and student card), tiket biasanya dapat diskon ya. So stay youth. Hehehe. Tiket re-bookable is mean that the ticket can neither be rebooked nor refunded. Untuk harga, silahkan cek sendiri di website dan konversikan ke rupiah. Oh iya, selama diluar negeri, stop konversi semua harga barang ke rupiah, bisa depresi kalau terus-terusan di konversiin ke rupiah. Hari pertama perjalanan, diisi dengan kamera pocket yang ketinggalan, kaget dengan isi keretanya yang mana saya dapat gerbong “allowed to bring animal”. Hiks. Secara saya takut sama anjing.

Teenager Shoes Bikin Bad Mood

s15Lagipula, saya berpikir, ini sudah akhir musim dingin, awal musim semi. Jadi, backpack juga tidak akan terlalu berat, untuk jaket, salah satu kolega dari Indonesia meminjami winter-spring traveling jacket, karena katanya jaket saya terlalu berat untuk dibawa backpacker-an. Untuk pilihan sepatu jatuh pada sneakers bawa dari Indonesia, boot saya kasih cuti dulu setelah dua bulan kerja tujuh hari tanpa rehat.

Semua prediksi backpacker amatir terbukti pasca sampai di Stockholm, dua jam di Stockholm jalan kaki, sedikit-sedikit saya berhenti, kaki rasanya seperti ditusuk ribuan jarum saking dinginnya. Teman saya sedikit mengejek dengan berkata, “Kok bisa kamu pake teenager shoes kayak gitu alih-alih boot ditengah salju yang bahkan belum mencair sempurna!”. Kan, saya mikirnya ini sudah mulai musim semi. Teman saya ngekek, dan memberitahu kalau di negara eropa lain, ini sudah musim semi, di negara Scandinavia ini masih musim dingin. Woalah, cek prediksi cuaca dulu harusnya ya. Rusak sudah good mood sightseeing gara-gara kaki yang ngilu karena kedinginan. Bawaannya pengen masuk ke tempat yang ada heaternya. Bahkan, kami sempat mau mampir ke pasar loak di Old Town untuk mencari sepatu winter murah, tapi apes, lagi tutup hari itu diganti pameran seni.  Akhirnya, alternatif kaos kaki wool berlapis-lapis adalah salah satunya. For the next two days, dalam perjalanan, saya sering minta mampir semacam Indomaret terdekat untuk menghangatkan kaki. Hehe. Maafkan saya travelmate.

Hostel: Jangan booking on the spot!
1st hostelRencana menginap di salah satu host, namun ternyata masih berjarak 30 menit naik kereta dari pusat kota Stockholm, akhirnya kita cancel, dan memilih untuk menginap di hostel saja untuk mengirit ongkos transportasi. Hari sudah hampir gelap, dan belum ada satu hostelpun yang ‘room available’. Setelah googling lewat internet mengenai beberapa alternatif hostel murah. Unfortunately, walaupun di website tertulis masih ada available room, receptionist selalu berkata ‘full booked’. Setelah berkeliling door to door dari satu hostel ke hostel yang lain, akhirnya kita menemukan underground hostel yang room-nya available. Secara umum, kurang pencahayaan, cenderung creepy, tempat tidur bunk bed, dengan empat orang satu kamar, jendela yang ternyata hanya lukisan (bukan jendela beneran), loker untuk menyimpan tas dan barang-barang berharga, dapur bersama, dan beberapa komputer yang tersambung dengan internet (internet room).

DSC09864Everything look just fine sampai saya ingin ke kamar mandi, kamar mandi campur yang terkesan jorok, dengan satu showering room yang hanya ditutup dengan gorden tipis transparan, tempat buang air kecil dan buang air besar yang ga ada penutupnya, alhasil saya balik kucing ke kamar dan memilih ke kamar mandi tengah malam saat peluang orang ke kamar mandi tidak terlalu banyak. Melalui fasilitas internet room, kami mencari alternatif hostel lain untuk dua hari berikutnya, dan belajar dari pengalaman, kami langsung booked via online. Keesokan paginya saya memilih cek out pagi-pagi sekali setelah sarapan.

BathroomHostel kedua kami di Stockholm, much better, walapun ada warning notes dimana-mana, but more homey, bunk bed dengan hampir sepuluh orang satu kamar, ruang menonton tv, dapur bersama, ruang tamu, kamar mandi campur yang bersih, dan sangat layak karena ada pintu (beneran pintu bukan gorden tipis) untuk tempat showering dan buang air. Kesamaannya, semuanya hampir kurang pencahayaan, yah, mungkin karena hostel diorientasikan hanya sebagai tempat menaruh barang dan tidur, dan lebih banyak menghabiskan waktu diluar hostel, sehingga pemilik hostel tidak mau terlalu banyak menghabiskan biaya untuk listrik.

Have to Visit!

free tour stockholmSelama tiga hari kami mendatangi tempat-tempat have to visit yang mayoritas free fee alias bisa dinikmati tanpa harus keluar uang, seperti, The City Hall, Old Town (Gamla Stan), Kungliga Slottet – The Royal Palace (The Changing of the Guard), walaupun ga sempet ke UK liat pergantian palace guard disini miriplah ya mungkin rasanya, hehe, Junibacken, Kanal Stockholm yang indah banget waktu sunset, Stortorget (Tanah Lapang Bersejarah), Kulturhuset, Fasching Jazz Club, dan yang berbayar Skansen Open Air Museum. Untuk foodie di tengah-tengah sightseeing, kami mampir ke boat market yang menjual Marsipan Coklad, nyobain free testing. Hehe.

s3For your information, untuk jalan-jalan ke kota tua, di Stockholm ada komunitas Free Tour Stockholm yang pamfletnya biasa tersebar di hostel-hostel, ini adalah free tour keliling Old Town gratis dengan tour guide berbahasa Inggris, tinggal datang ke meeting point di jam yang ditentukan, tunggu saja, kalau sudah waktunya, pasti tiba-tiba ada yang pake toa atau teriak-teriak free tour Stockholm, nah itu tour guide-nya biasanya. Hehehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s