Perfect Summer for Dumb Indonesian

IMG_3107

Setelah persiapan yang panjang “training class which were fulfilled with full English, coffee and snack by our lecturer”, mengurus visa menggunakan one night travel (none of us would forget) karena mengejar appointment di Kedubes Jerman jam tujuh pagi esoknya, ah ya, jujur saya agak kaget karena rencana awal adalah we would went there by train, need to noted executive train jadi travel Elf bermuatan sembilan orang, (pembaca bisakan melihat perbedaannya). But everything went really well, we got the VISAAAA!!

060720111790

Passport hijau, Visa Schengen dan Tiket Lufthansa di dalamnya sudah ditangan. Koper dan rancel sudah dipacked. Bandara internasional Frankfurt Rhein-Main adalah “luar negeri” pertama yang saya injak setelah keluar dari pesawat. Mesin free coffee for Lufthansa Passanger adalah benda pertama yang saya incar mengingat entah kenapa bandara terasa lumayan dingin, let’s grab a cup coffee and chocolate.

bild0_104

Dari Frankfurt kami naik pesawat dengan kapasitas lebih kecil ke Leipzig, dan kami naik Trem untuk menuju penginapan kami Pension Piano Forte di Shakespearestr. Saya masih ingat bagaimana kami menggeret koper dari Trem station yang lumayan jauh (dekat kata orang sana), dasar orang Indonesia, masih shock dengan budaya jalan kaki. Ngos – ngosanlah kami sesampai di penginapan. Pemilik Pension Piano Forte sangat baik sekali, terutama pada kami yang newbie banget sama yang namanya tinggal di Jerman. Mulai dari toilet kering yang you know what I mean, cuma ada tissue (bersyukur masih ada persediaan tissue basah), ga ada namanya jemuran baju, jadi cuci kering dan jemur di dalam kamar (salah satu teman ada yang nekat nyuci daleman di wastafel, we know who he is), jangan masak yang berbumbu terlalu menyengat, dan lain – lain.

Leipzig was awesome.

DSC02550

Dalam waktu sepuluh hari terakhir, kami menghabiskan waktu dengan cara yang berbeda – beda. Satu hal yang sama, kami bangun pagi, sarapan, dan jalan kaki ke kampus. Hari pertama of course nyasar. Yeah, we went to wrong direction. Entah mungkin karena kami kehausan juga, air soda (sparkling water) kami kira air mineral, dari situ kami belajar, we should asked ‘mineral water or pure water’. Let’s say since it was our first time.

IMG_3000

Gambar di atas adalah pusat perbelanjaan di Leipzig alias Mall di luar negeri. Perbedaannya adalah saya bisa melihat sepeda masuk mall, lihat orang nuntun sepeda di dalem mall. Hehe. Apalagi waktu itu adalah bebarengan dengan Summer Discount, bayangkan gimana hebohnya teman – teman perempuan saya yang tahu kalau si Zara lagi discount up to 70%. Saya yang awalnya tidak tahu bahwa Zara itu ada, jadi ngeh keberadaan si Zara dan lebih peka kalau ke Mall, bener kata temen saya, “Haduh, di Indonesia harga tas sama baju begini bisa ratusan ribu, disini kalau dirupiahin, seratus ribu aja ga sampek Rahmaaa…”, baiklah, happy shopping sistah, “Dear Man, Shopping is My Cardio, sincerely Women.”

Leipzig is beautiful, I always called it a beauty town. I really had very good memory there.

IMG_3274

Berhubung tujuan kami ke Leipzig adalah misi akademis, hasrat ingin Tour de Leipzig baru bisa keturutan saat weekend. Kita main Kayak (Canoeing) di Sungai-nya Leipzig (The Elster and Pleiße rivers) yang diisi dengan insiden Kayak Kebalik ditambah satu sepatu teman satu Kayak kebawa arus, pulanglah dia dengan tidak beralas kaki, that day kita Naik Trem keliling Leipzig (Acungkan empat jempol untuk public transportation di luar negeri).

IMG_4774

Foto mas – mas ganteng di atas diambil saat doi lagi nongkrong di puncak Volkerschlachtdenkmal alias Battle of the Nations Monument, monumen perang yang awalnya saya pikir “Wah, di Eropa ternyata juga ada candi” (Stupid Things Came Out from My Dumb Brain). Untuk naik ke puncak membutuhkan usaha dan kemauan, banyak anak tangga yang berliuk – liuk menanti, but it was worth it! (Foto di atas hanya foto dan tidak bisa dibawa pulang ke Indonesia untuk man teman yang request oleh-oleh “bawain bule ganteng”)

285239_1941485986810_4891490_n

Hauptbahnhof Leipzig, Bach Museum, Old City Hall, Goethe Memorial, The Magnificent Neues Gewandhaus, St. Thomas Church, adalah beberapa dari deretan historical and beautiful things yang kami kunjungi di Leipzig, terutama untuk berfoto (Indonesian always take a photo wherever she goes). #spreadwefie #spreadselfie

IMG_4858

Tidak lupa menikmati es krim cause that was summer, penjual es krim bergelatakandi pinggir jalanan Leipzig (abaikan saya yang menggunakan jaket hujan yang kebesaran karena tidak tahan angin dingin di tengah musim panasnya Leipzig). Saya masih ingat bagaimana kami sepulang kuliah ingin mengincipi es krim untuk pertama kalinya di Leipzig, then we go, saya dan teman dengan percaya diri berbicara dengan bahasa Inggris yang cus cis sambil nunjuk rasa ini itu yang kami mau but then sunyi, si granny penjual melihat kami hanya dengan tatapan mata kosong tak mengerti tapi tetap tersenyum, dan mulailah kami diajak ngobrol bahasa Jerman, giliran kami yang tersenyum kaku karena tidak mengerti satu patah katapun. Akhirnya dengan kegigihan yang kuat, kami keluarkan bahasa tubuh dan bahasa jari untuk mendapatkan es krim yang kami mau dan berapa harganya. We made it fellas. Kami makan es krim dengan senyum kemenangan, we put our best effort to got these ice cream!

To be Continue to Others Article…
*nunggu mood re-writing coming back mister….

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s