Mengantar manusia pulang kerumah-Nya

Sumber : Catatan Kajian Al. Ustadzah Dewi tahun 2015 dan Buku Lengkap Mengurus Jenazah (Jubair Tablig Syahid)

pexels-photo-207691

“Sekarang ini,….. setinggi – tingginya kamu sekolah, kerja, setinggi – tingginya jabatanmu, sekaya apapun kamu, kalau orang tuamu meninggal atau ada saudara yang meninggal mayoritas pasti akan memanggil orang kampung atau orang lain untuk mengurus jenazahnya, iya apa engga?”, pertanyaan itu terlontar begitu saja oleh al. Ustadzah Dewi di majelis taklim dirumah beliau sore itu. Beberapa di antara kami yang sudah paham bagaimana mengurus ustadzah terdiam, sedangkan aku dan beberapa orang langsung menunduk malu, terutama waktu beliau memandangku sewaktu berkata, “..setinggi – tingginya kamu sekolah, S1 sampe S3… “. Ya, saya hanyalah seorang magister ilmu dunia saja, ilmu akhiratnya masih sampai tingkat elementary.

Ah, tiba-tiba saja aku kangen sama beliau dan kemudian ingin menulis kembali sekaligus mengingat kajian Jumat itu. Bagaimana tidak aku selalu teringat akan kajian sore itu, saat ibuku meninggal aku buta tentang bagaimana mengurusnya, entah karena masih shock atau memang karena tidak tahu, jadi ikut saja orang – orang menyuruh ini itu. Mulai memandikan, menyolati, dan mengantarnya ke makam. Semoga tidak ada yang seperti aku lagi ya. Amin.

quranic-verses

Hari itu ustadzah Dewi tiba – tiba berkata, “Hari ini kita akan belajar bagaimana mengantar manusia pulang ke rumah-Nya”.

Umur masing – masing hamba telah Allah SWT tentukan di dalam sebuah kitab yang ada di sisi-Nya, tidak akan berkurang ataupun bertambah dari apa yang telah ditetapkan, beserta sebab – sebab yang telah Allah SWT takdirkan. (Q.S. Fatir : 11)

Dan disini pentingnya berbuat baik kepada sesama (orang tua, anak, saudara, tetangga, teman, saudara muslim dan muslimin) semasa hidup menjadi salah satu hal yang penting. Tidak ada satu manusia satupun yang apabila mati kemudian berangkat sendiri menuju liang kuburnya (Jangan dibayangkan, ngeri jadinya, naudzubillah). Tentu saja hal ini adalah menjadi kewajiban bagi orang yang masih hidup, terutama keluarga yang ditinggalkannya untuk mengurusnya sampai menguburkannya.

Merawat jenazah sesama muslim hukumnya adalah fardhu kifayah (jika sudah ada salah satu yang mengurusnya, maka gugurlah kewajiban tersebut), namun semua orang belum tentu mempunyai dan memahami betul ilmunya (mengaca di cermin sambil, yeps, including me). Sehingga setiap orang tentunya wajib mengetahui tata cara bagaimana merawat jenazah yang sesuai dengan tuntutan agama Islam. Karena kewajiban merawat jenazah yang pertama adalah keluarga terdekat, apalagi kalau yang meninggal adalah orang tua atau anak kita. Kalau kita tidak bsia merawatnya sampai menguburkannya berarti kita tidak berbakti kepada orang tua kita.

pexels-photo-110208.jpeg

“Apabila telah mati anak Adam, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, shodaqoh jariyah (ini harta yang bisa dibawa mati, maka sedekahkanlah sebagian rejekimu, ilmu yang bermanfaat (semoga tulisan ini bermanfaat, Amin), dam anak yang shalil yang mau mendoakan kedua orang tuanya”.

Disinilah kita harus menunjukkan bakti kita (sebagai anak) yang terakhir (di dunia) apabila orang tua kita meninggal, yaitu dengan merawat sampai menguburkan serta mendoakannya.

Sebagaimana dikatakan oleh Al. Ustadzah Dewi dan juga ditulis oleh Jubair Tablig Syahir, realita yang terjadi jaman sekarang, terutama dikota-kota besar. Pengurusan jenazah kebanyakan tidak dilakukan oleh keluarga dekat, bahkan keluarga tinggal terima kasih karena sudah membayar orang untuk mengurus jenazahnya, bahkan sampai mendoakannya juga meminta orang lain yang mendoakan.

Tugas utama mengurus jenazah adalah keluarga, diutamakan keluarga.

people-vintage-photo-memories

Pihak yang berhak mengurus Jenazah?

Keluarga terdekat, kerabat jauh, tetangga sesama muslim/yang sama jenis kelaminnya.

Siapa yang berhak memandikan jenazah?

Orang diberi wasiat untuk memandikan. Jika tidak diberi wasiat, maka yang berhak memandikan adalah keluarga terdekat, atau dapat menunjuk seseorang yang tahu ilmunya. Jika jenazahnya laki – laki, maka yang berhak memandikan adalah keluarga terdekat muslim yang berjenis kelamin laki – laki, baligh, berakal sehat, dan mengetahui tata cara memandikan jenazah. Tidak boleh wanita memandikan jenazah laki – laki begitu pula sebaliknya.

Perlengkapan memandikan jenazah

  1. Tempat yang tertutup agar tidak terlihat auratnya oleh orang lain
  2. Air suci untuk mengguyur jenazah, sebaiknya air yang dingin dan diberikan wewangian.
  3. Kapas untuk menutupi lubang – lubang yang mengeluarkan cairan.
  4. Gunting, gunting kuku, sisir, handuk, sabun, spoon, dan shampo cair.
  5. Sarung tangan, masker bagi yang memandikan jenazah.
  6. Kain untuk menutup tubuh jenazah setelah dimandikan.
  7. Kain kafan

pexels-photo-28827

Rasulullah SAW berkata, “Kenakanlah dari pakaian kalian yang berwarna putih karena ia merupakan pakaian yang terbaik, dan kafanilah dengannya”. Perihal kain kafan, berikanlah yang warna putih tapi jangan sembarangan kain berwarna putih apalagi kain kafan yang biasanya (bila mampu), kain prima 11 – 15 meter. Ustadzah Dewi mengatakan bahwa, “Untuk kain kafan jangan asal kain kafan putih yang kasar, tapi yang halus bahannya, masak nganter manusia pulang kerumahNya dikasih kain seadanya, yang bagus donk, biasanya kalau beli namanya jenis kain prima”.

Adab memandikan jenazah

Niat dulu ya sebelum memandikan jenazah, gampangannya, “Aku berniat mewudhukan jenazah ini karena Allah SWT” dan “Aku berniat memandikan jenazah ini karena Allah SWT”.

  1. Dimulai dari bagian anggota kanan
  2. Jangan terlalu kasar pada jenazah (coba baca tentang Sakaratul Maut)
  3. Memilih tempat tertutup sehingga aurat tidak terlihat
  4. Disunnahkan mandi bagi yang telah memandikan jenazah
  5. Hendaklah berbicara yang baik atau jangan berbicara buruk tentang segala hal, apalagi tentang jenazah.

Adab Mengkafani

Ukur lebar tubuh jenazah kalau tidak sempat maka gunakan perbandingan antara lebar tubuh jenazah dengan kain kafan 1:3. Kain kafan untuk jenazah laki – laki terdiri dari tiga lembar dan jenazah wanita adalah lima lembar kain. Untuk lebih lengkapnya akan dibahas di next notes Cara Mengukur dan Adab Mengkafani Jenazah (atau bisa browsing sendiri di internet, sebaiknya youtube/video untuk yang lebih mudah memahami secara visual).

solat_jenazah2

Setelah selesai mengkafani maka jenazah letakkan jenazah di sebelah kiblat orang yang menyalatkan. Hukum solat  jenazah adalah fardhu kifayah. Niatnya adalah, “Saya niat menyalatkan jenazah ini (laki – laki/ perempuan, empat takbir, fardhu kifayah, karena Allah ta’ala”. (lebih lengkapnya silahkan browsing Tata Cara Solat Jenazah).

Terakhir adalah mengantar jenazah hingga ke makam / kuburan sampai dengan selesai penguburannya. Remember, you can cry tapi jangan meratapi. It’s difficult I know, but you should try your best to let it go.

pexels-photo-25366.jpg

Doa pada saat takziyah yang dapat menjadi referensi tambahan selain kalimat, “Ikut berduka cita atau please accept my deep condolence” adalah, “Semoga Allah menghilangkan kesedihanmu, memperbesar pahalamu, menghapus musibahmu, dan mengampuni dosa mayat (yang meninggal) dan semoga Allah memberimu ganti yang lebih baik dari musibah yang menimpamu”.

End of this, berikut adalah doa khusnul khotimah karena sesunggunya setiap manusia/jiwa pasti akan merasakan mati, Q.S. Al Araf: 126, “……Ya Tuhan kami, limpahkan kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu)”.

Semoga bermanfaat untukku dan untukmu sekalian. Amin.

Sumber gambar: www.pexels.com dan unsplash.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s