Catatan untuk saya (as muslim) kalau keluar negeri lagi (Amin)

DSC02462

Gambar : Pergamon Museum (Berlin)

Saya bukan berasal dari keluarga pesantren atau besar di lingkungan pesantren. Bapak saya hanya seorang guru olahraga di tingkat sekolah menengah atas dan ibu (alm.) seorang guru di sekolah menengah kejuruan.  Namun keduanya membesarkan saya dengan sebaik – baiknya, alarm subuh dari ibu dan omelan bapak di kala maghrib menjadi kenangan bagaimana ibadah solat adalah sangat penting untuk tidak ditinggalkan hanya karena acara TV atau karena mengantuk.

Selama diberikan rejeki untuk mengelilingi bumi Allah, Allah Yang Maha Pemurah ‘Allahku’, menunjukkan kasih sayang dan nikmat-Nya yang kadang lupa saya syukuri. Kalau udah gini bawaannya langsung inget salah satu surat di Al Qur’an, Ar – Rahman yang berbunyi,”Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?”.

c11.JPG

Berawal dari sebuah lamunan setelah membalas salah satu email dari kawan di luar negeri. Saya kemudian teringat perkataan salah satu host traveling, he is so dannish and the important thing I should tell you about him is his statement in the day we were met is  inspired me to write these notes. Kurang lebih apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia seperti ini, “Kamu tahu kenapa saya tertarik menjadi hostmu padahal kamu no references?”. Saya hanya menjawabnya dengan mengangkat kedua alis tinggi-tinggi. “Karena kamu menulis di profilemu kamu beragama Islam! That’s why I hosted you. Saya ingin menanyaimu beberapa hal tentang Islam, I would like to discuss if you don’t mind”

Oke, kejadian seperti ini bukan kali pertama terjadi. It happened several times with different person, personality and different perspective of course. To be honest, saya bukanlah muslim taat. Well say, I am look like idiot or foolish muslim who try to answer every question about my own religion in logically. Simple to say, at that time, I wasn’t answered those question through Quran or Hadist.

Semakin sering menjadi narasumber tentang ‘How is Islam see……….?’ dadakan saat di luar negeri (baca: Eropa) membuat saya menjadi sadar kadar keislamannya diri sendiri. Saya ada di level taman kanak – kanak kalau urusan akhirat.

c12.JPG

Suatu hari pada saat bongkar – bongkar tumpukan buku di kost, saya menemukan my traveling books, saya membaca salah satu catatan yang tertulis dalam perjalanan ke Berlin dari Warsaw, , “If you are Indonesian, have been traveling, or living in overseas, and you are muslim, what the question that people usually asking you about?”.

Sebelumnya, saya merasa cukup dengan jawaban – jawaban ‘logika’ tentang Islam.  Kemudian, He showed me this, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya.”[Q.S. Al Israa: 36/Q.S. 17 : 36]. Ah, semua akan dipertanggungjawabkan ya. All of it without hesitation would be asking for responsible.  Then, Allah, let me know my own religion.

Saya akan meresume beberapa pertanyaan tentang Islam yang sering ditanyakan (mungkin kamu juga bisa menambahkan).

  1. BAHASA ARAB, “Kamu muslimkan? Berarti bisa bicara bahasa Arab donk?”

quote-arabic-is-the-language-of-the-qur-an-but-arab-culture-is-not-the-culture-of-islam-tariq-ramadan-92-81-82.jpg

Well, bahasa Arab di Al Quran dan bahasa Arab sehari – hari berbeda. Saya bisa mengerti isi Al Quran karena saya membaca Al Quran dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia, jadi bilingual Quran. FYI, saya pernah membaca Al Quran versi bilingual Arab dan bahasa Jerman di Berlin. Kalau dalam bahasa Arabnya saya bisa baca, tapi dalam bahasa Jermannya saya angkat bendera putih (I can’t speak Germany guys).

For further information, coba googling, “Kenapa Allah menurunkan Al Quran dalam bahasa Arab”

“Sesungguhnya, Kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab, supaya kamu memahami(nya).” – (QS. Surat 43: Az-Zukhruf ayat 3)

  1. ALKOHOL, “Kalian sama – sama muslim, tapi kenapa dia minum dan kamu tidak?”

quote-islam-doesn-t-try-to-destroy-cultures-it-cleans-them-up-you-can-keep-your-language-but-nouman-ali-khan-95-6-0671.jpg

“Karena kamu tidak boleh minum alkohol dan kita dalam acara welcoming dinner, let me drink wine and for you here (coca cola dingin)”, terima kasih atas jamuan makan malam dan hospitalitynya mister dannish. Just remind, salah satu rejeki dari Allah adalah kita selalu dikelilingi oleh orang – orang yang baik. Alhamdulillah.

Oke, let’s talk about alkohol dalam Al Quran. Surat Al-Maidah ayat 90: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Untuk menjelaskan larangan ini ada sebuah analogi sederhana: Larangan mengemudi dalam keadaan mabuk diukur berdasarkan jumlah kandungan alkohol di dalam darah, bukan kondisi mabuk-tidaknya seseorang. Artinya, jika di dalam darah seseorang terkandung alkohol dalam jumlah yang melebihi batas maka dia dinyatakan melanggar aturan, terlepas apakah ia mabuk atau tidak.

“Hey, parfum yang kamu gunakankan juga ada alkoholnya tuh, emang boleh?”

Perlu diingat bahwa alkohol hanyalah salah satu bentuk zat kimia. Zat ini juga digunakan untuk berbagai keperluan lain seperti dalam desinfektans, pembersih, pelarut, bahan bakar dan sebagai campuran produk-produk kimia lainnya. Untuk contoh-contoh pemakaian tersebut, maka alkohol tidak bisa dianggap sebagai khamar, oleh karenanya pemakaiannya tidak dilarang dalam Islam.

Al Baqarah ayat 219 yang artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.”

  1. SOLAT, “Kenapa kamu solat menyembah tembok?”

11226687_1651252131771072_1498185943_n.jpg

Bukan tembok yang saya sembah, tapi yang punya tembok dan yang menciptakan bahan – bahan tembok itu dibuat. (Allah-ku)

Kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”. (QS. 2:142)

Dan kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 2:115)

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi beberapa orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (QS. 2:143)

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhan-nya; dan Allah sekali-kali tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan. (QS. 2:144)

Dan bagi tiap-tiap ummat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Seungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:148)

Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke Masjidil Haram; Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang haq dari Tuhan-mu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah atas apa yang kamu kerjakan.(QS. 2:149)

Menghadap Ka’bah bukan berarti kita menyembah Ka’bah, tetapi merupakan  simbol yang ditetapkan Allah bagi kiblat orang-orang Islam. Hal ini untuk membedakan kiblat umat Muhammad dengan kiblat umat lain.

Namun demikian seandainya kita berada di suatu tempat dan tidak mengehtahui arah Ka’bah maka menghadap kemanapun sah shalatnya karena dimana saja disitu ada Wajah Allah. Menghadap ke Ka’bah adalah simbol persatuan, dan untuk memudahkan kalau kita shalat khususnya shalat berjamaah.

Tentang solat, saya pernah ditanya oleh salah satu teman dari Ceko seperti ini, “Kamu solat berapa kali dalam sehari?”, setelah saya jawab lima kali sehari disertai waktu – waktunya, dia menjawab, “Wow, berarti kamu harus solat lima kali dalam sehari, lima kali dalam tujuh hari seminggu dan selama setahun penuh or as long as you live, kamu harus melakukannya setiap hari, emang kalau ga solat sekali saja, atau salah satu dari lima itu bolong, kamu bakalan mati gitu? You will get an accident or what?”. Jujur, saat itu saya hampir tertawa terbahak – bahak atau ROTFL.  Untuk pembahasan ini dan pertanyaan – pertanyaan yang biasa ditanyakan lainnya, to be continue ya (masih proses belajar juga nih soalnya). 🙂

NB : saya masih belajar, bilamana ada penyampaian yang salah mohon dibetulkan dengan cara menegur yang baik atau lembut dan tidak menghujat. Terima Kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s